Universitas Indonesia

Kebangkitan Pangan, Kebangkitan Bangsa FOI dan BEM FISIP UI Gelar Rembug Pangan Orang Muda

FOI dan BEM FISIP UI Gelar Rembug Pangan Orang Muda. Temanya Kebangkitan Pangan, Kebangkitan Bangsa.

Penulis: Dodi Hasanuddin | Editor: Dodi Hasanuddin
Istimewa
Kebangkitan Pangan, Kebangkitan Bangsa FOI dan BEM FISIP UI Gelar Rembug Pangan Orang Muda 

WARTAKOTALIVE.COM, BEJI - Kebangkitan Pangan, Kebangkitan Bangsa FOI dan BEM FISIP UI Gelar Rembug Pangan Orang Muda.

Foodbank of Indonesia (FOI) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (BEM FISIP UI) menggelar Rembug Pangan Orang Muda (RPOM) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI untuk peringati Hari Pangan Sedunia dan Hari Sumpah Pemuda.

Diskusi bertema “Kebangkitan Pangan, Kebangkitan Bangsa” ini diikuti lebih dari 60 perwakilan pemimpin organisasi pemuda dan mahasiswa dari berbagai wilayah.

Baca juga: Fakultas Tenik Universitas Indonesia Posisi Teratas Kampus Teknik Terbaik di Indonesia

Pemantik dialog terdiri dari pakar berbagai disiplin ilmu seperti antropologi, sejarah, pangan dan gizi serta media. RPOM diadakan untuk membuka wawasan dan kesadaran orang muda tentang isu pangan dan potensi beragam sumber pangan yang secara berdaulat dapat diperoleh dari keanekaragaman hayati dan kekayaan laut yang dimiliki Indonesia.

Dekan FISIP UI, Prof. Semiarto Aji Purwanto dalam pengantarnya mengatakan bahwa pengetahuan dan perubahan pola pikir yang mempengaruhi perilaku terkait pangan harus mulai dimiliki oleh para pemuda.

Menurutnya, penghargaan terhadap petani rendah sehingga minat pemuda terhadap pertanian rendah.

“Meskipun usaha kuliner banyak diminati oleh para para pemuda, namun kuliner tersebut justru merupakan kuliner yang memutus rasa lidah pangan lokal, karena didominasi oleh perasa yang tidak alami atau tidak berasal dari sumber pangannya langsung. Makanan pabrikan yang merusak lidah lebih populer dibanding dengan pangan lokal” ujarnya.

Moderator RPOM, Dr Hendrajit mempersilakan pemantik diskusi secara bergantian memaparkan pemikirannya. Prof. Arif Satria, yang berhalangan hadir digantikan oleh wakil rektor I IPB University, Prof. Dr Ir Drajat Martianto M.Sc yang menyorot bahwa pangan harusnya fokus pada kesejahteraan manusia, mulai dari petani sampai manusia yang memakannya.

Intinya masalah pangan bukan hanya masalah teknis ketersediaan, tapi harus perhatikan kesejahteraan sosial baik dalam produksi, konsumsi, maupun distribusinya.

"poinnya, kita harus menantang anak-anak muda untuk berkontribusi dalam persoalan pangan ini dibidang ilmunya masing-masing” tegasnya.

Beberapa pakar dan akademisi yang berbagi pemikiran dalam RPOM antara lain Prof. Yunita Triwardani Winarto (Guru Besar Antropologi UI), JJ Rizal (Sejarawan), Fadly Rahman, MA (Food Historian), Prof. Ahmad Sulaeman (Guru Besar Pangan dan Gizi IPB), Prof. Eni Harmayani (Dekan FTP UGM), dan Ahmad Arif (Wartawan Kompas). Masing-masing menyampaikan gagasan mengenai potensi pangan dan orang muda dalam mencapai kebangkitan Indonesia di masa depan.

JJ Rizal, mengatakan, bila berbicara tentang sumpah pemuda dan ketahanan pangan, terdapat tiga hal yang harus diperhatikan yaitu langkah radikal dalam mengatasi masalah pangan, keragaman, dan kesetaraan.

“Masalah pangan kita adalah masalah yang akut, sehingga pembahasannya harus keluar dari sebatas diskusi biasa, butuh radikalisme untuk mengatasinya. Kita punya modal pengetahuan yang cukup, tapi bagaimana pengetahuan itu diwujudkan dalam kebijakan lebih penting,” tegas JJ Rizal.

Baca juga: Kantin Sejiwa, Tempat Nongkrong Asyik Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

M Hendro Utomo, pendiri Foodbank of Indonesia menjelaskan bahwa RPOM ini adalah dialog orang muda yang dimaksudkan sebagai pra kongres.

Kongres Orang Muda sendiri akan dilaksanakan pada tahun depan dengan melibatkan pemimpun muda dari berbagai provinsi di Indonesia.

Menurut Hendro, Indonesia memiliki modal besar dalam menuju kebangkitan Indonesia, yaitu pangan dan orang muda.

“Persaingan geopolitik yang terjadi sekarang menegaskan tiga hal yang penting untuk dikuasai yaitu teknologi, energi, dan pangan. Kita tidak punya sumber energi dan teknologi yang unggul, tapi seluruh wilayah nusantara adalah penghasil pangan yang beragam. Ironisnya, 3.1 juta gandum diimpor dari Ukraina. Anak-anak muda harus jadi pelopor supaya Indonesia dapat mencapai kemandirian dan ketahanan pangan” tambah Hendro.

Rembug Pangan Orang Muda ini harapannya menjadi forum awal untuk menghimpun perspektif awal pemuda mengenai pangan.

Setelah meninggalkan RPOM, peserta diharapkan punya kesadaran baru dan kegelisahan bahwa masalah pangan adalah masalah multi perspektif yang harus diselesaikan bersama-sama. RPOM juga didukung oleh Frisian Flag Indonesia, JNE Express, Hokben, AQUA, dan ABC President.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved