Berita Daerah

Program Densus 88 Antiteror Polri Masuk Sekolah, Ganjar Pranowo Sebut Masyarakat Harus Terlibat

Program Densus 88 Antiteror Polri dengan masuk ke sekolah-sekolah dinilai Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sudah tepat.

Editor: Panji Baskhara
TRIBUNNEWS/BIAN HARNANSA
Ilustrasi: Program Densus 88 Antiteror Polri dengan masuk ke sekolah-sekolah dinilai Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sudah tepat. 

Kerja sama dalam aspek sosial ekonomi, dan internalisasi nilai-nilai luhur Pancasila kepada eksnapiter dan keluarganya akan membuat mereka memiliki pendirian dan kecintaan kepada negara.

Peran pemerintah sampai tingkat desa/kelurahan dengan otonomi, kelola masyarakat dengan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, juga menjadi langkah yang bagus untuk deradikalisasi dan internalisasi nilai Pancasila.

Arif menjelaskan, ketika seorang teroris ditangkap, maka ada keluarga, istri, dan anak yang ditinggalkan di rumah. 

Jika yang ditangkap kepala keluarga, maka keluarga yang ditinggalkan butuh menopang kebutuhan.

Di sinilah peran pemerintah bisa lebih tepat, dengan memberi kepastian kebutuhan keluarga tercukupi.

Sebab, momen ini juga digunakan oleh jaringan teroris untuk masuk dan mengambil keluarga yang ditinggalkan.

“Mereka yang ditangkap itu korban dan terdampaknya adalah keluarga. Maka kita coba berikan pemahaman ke masyarakat bahwa mereka ini juga masyarakat, keluarga kita"

"dan berpikir yang kita perangi adalah perbuatannya, bukan orangnya. Kita harus selamatkan keluarganya, agar terputus dengan jaringan mereka (radikal),” papar Arif.

Ditambahkannya, Densus 88 sudah memulai di-engagement dengan keluarga yang ditinggalkan saat penangkapan teroris.

Mulai soal pendidikan hingga kesehatan.

Sebab deradikalisasi pelaku jadi susah ketika keluarga mereka lebih dulu ditarik masuk ke jaringan.

Kerja sama dan kolaborasi antara Densus 88 dengan pemerintah daerah, juga terkait pencegahan radikalisasi di kalangan pelajar.

Kata Arif, pola mengajak eks napiter untuk berbicara tentang bahaya radikalisme dan bagaimana proses masuknya adalah cara efektif.

“Ini kami anggap lebih efektif karena anak-anak sangat rentan,"

"Tetapi ketika diceramahi oleh penyintas menjadi lebih efektif sebagai narasumber" ungkapnya.

(Wartakotalive.com/CC) 

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved