Gelar Aksi Bela Ulama, Forum Santri Bersatu Demo di Patung Kuda Arjuna Wijaya Monas

Mereka pun menilai perkataan Suharso sudah membuat sakit hati dan kecewa para santri

Editor: Ahmad Sabran
HO
Demo aksi bela ulama di kawasan patung kuda Arjuna Wijaya, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2022) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Ratusan santri yang tergabung dalam Forum Santri Bersatu, menggelar unjuk rasa di kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya, Monas, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2022). 

Mereka meminta Presiden Jokowi segera mencopot jabatan Suharso Monoarfa sebagai Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Hal tersebut dipicu ucapan Suharso beberap waktu lalu, tentang “amplop kiai”.

Mereka pun menilai perkataan Suharso sudah membuat sakit hati dan kecewa para santri, karena menilai kiai-nya dihina.

“Terkait aksi hari ini, kami meminta Presiden Jokowi untuk memecat Suharso yang telah mengina kiai. Kami berharap Presiden Jokowi bisa mempertimbangkan jabatan Suharso di kabinet kerjanya,” ujar Koordinator Forum Santri Bersatu, Ustaz Hilaluddin, di lokasi..

Baca juga: Proses Pembuatan Film Petualangan Sherina 2 Sudah Masuk Tahap Rekaman Soundtrack

Hilaluddin menyayangkan perkataan Suharso sebagai ketua umum partai Islam yang tidak mencerminkan adab.

Menurutnya, para santri demonstrasi karena tidak terima dengan sikap Suharso.

“Sudah dilayangkan surat ke Presiden Jokowi untuk memecat Suharso. Kami akan terus melakukan aksi sampai Suharso dipecat,” tegasnya.

Senada, salah satu santri dari Pondok Pesantren Nurul Amanah Jakarta Selatan, Muhammad Eka Ilham mengatakan, ulama adalah ahli waris ilmu dari para nabi  yang tidak boleh dihina.

Baca juga: Ridwan Kamil Tidak Sepakat dengan Wagub Jawa Barat Terkait Poligami Solusi Cegah HIV/AIDS

“Perjuangan kami di bawah terik matahari bukan soal mudah. Rasulullah tidak mewariskan dirham, tapi menurunkan ilmu kepada ulama. Maka kami tidak terima jika ulama dan kiai dihina,” ungkap Eka.

Sebelumnya, Suharso Monoarfa menjelaskan bahwa pidatonya mengenai amplop kiai yang beredar tersebut telah dipotong sehingga keluar dari konteks dan salah dipahami. Padahal pidato tersebut kata Suharso berkesinambungan.

“Jadi, kemudian pidato saya dipotong, sedemikian rupa, keluar dari konteks, diviralkan. Itu yang tidak fair menurut saya,” katanya.

Menurut Suharso pidatonya tersebut untuk mengingatkan dan mengedukasi budaya anti korupsi.

Terlebih ia merupakan salah satu ketua Stranas pencegahan korupsi.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved