Lifestyle
Masih Bisakah Terjadi Kehamilan pada Pasien Kanker Serviks?
Kanker serviks satu-satunya kanker yang dapat dicegah secara spesifik, yakni dengan vaksinasi serta rutin melakukan papsmear
Penulis: LilisSetyaningsih | Editor: LilisSetyaningsih
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Menjadi kodrat perempuan ingin hamil dan melahirkan.
Namun, tidak semua keinginan tersebut terjadi.
Salah satu penyebab yang dapat membuat kehamilan sulit dilakukan ketika terkena kanker.
Walaupun masih memungkinkan dengan melakukan serangkaian treatment, salah satunya dengan menyimpan sel telur sebelum dilakukan rangkaian pengobatan kanker.
Baca juga: Rima Melati Pernah Menang Lawan Kanker Payudara Stadium Akhir
Selain itu, ketika kanker ditemukan dalam kondisi stadium dini dan dapat dicegah.
Dibandingkan jenis kanker lain, hanya kanker serviks yang dapat dicegah secara spesifik, yakni dengan vaksinasi.
Dr. Agung Witjaksono, SpOG, Dokter Spesialis Obgyn mengatakan, pencegahan kanker serviks ada dua, pencegahan primer dan sekunder.
Pencegahan primer yaitu dengan vaksinasi, sementara pencegahan sekunder adalah dengan papsmear.
Baca juga: Kunto Aji Jadikan Ridwan Kamil Sebagai Inspirator untuk Lebih Tegar Mendampingi Ayah Melawan Kanker
Ia mengatakan, kanker serviks adalah kanker yang diketahui penyebabnya adalah dari HPV (human papiloma virus). Dan itu yang paling banyak.
"Kalau penyebabnya dari virus artinya bisa dilakukan upaya pencegahan dengan vaksinasi," ujar dr Agung saat menjadi pembicara di Grand Opening Klinik Utama JLA Indonesia belum lama ini.
Vaksinasi ini sudah bisa dilakukan ketika perempuan berusia 10 tahun.
"Dari WHO menyatakan dari usia 9 tahun sudah bisa dilakukan, pada anak-anak usia 9-14 tahun hanya dua kali dalam kurun waktu 6 bulan. Sementara pada dewasa tiga kali," paparnya.
Baca juga: Lansia Bisa Rentan Terkena Kanker Darah, Kenali Gejalanya untuk Pendeteksian Dini
Pada anak-anak walaupun hanya dilakukan dua kali saja, efektifnya sama dengan yang divaksinasi 3 kali pada dewasa.
Dari penelitian yang sudah dilakukan kurang lebih sudah 30 tahun, pada anak-anak cukup 2 kali, dan tidak perlu diulang saat dewasa.
"Sampai sekarang mereka belum menyarankan untuk dilakukan pengulangan," imbuh dr. Agung.
