Kesehatan

Ini Alasan BPOM Lakukan Pelabelan BPA Galon Guna Ulang, 96,4 Persen Galon Mengandung BPA

Pelabelan BPA Galon Guna Ulang Merespon Pandangan Miring Asosiasi Industri. Hal itu dilakukan BPOM untuk melindungan masyarakat.

Penulis: Dodi Hasanuddin | Editor: Dodi Hasanuddin
Istimewa
Ini Alasan BPOM Lakukan Pelabelan BPA Galon Guna Ulang, 96,4 Persen Galon Mengandung BPA. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Ini Alasan BPOM lakukan pelabelan BPA galon guna ulang, 96,4 persen galon mengandung BPA.

Pelabelan risiko Bisfenola A (BPA)—bahan kimia yang bisa menyebabkan kanker dan kemandulan—adalah bentuk nyata perlindungan pemerintah atas potensi bahaya dari peredaran luas galon guna ulang di tengah masyarakat, kata Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Rita Endang.

"Pelabelan ini semata untuk perlindungan kesehatan masyarat. Jadi tidak ada istilah kerugian ekonomi," kata Rita dalam sebuah webinar bertajuk "Sudahkah Konsumen Terlindungi dalam Penggunaan AMDK" pada Kamis (2/6/2022).

Baca juga: Felicya Angelista Tidak Pernah Muncul di Layar Kaca dan Main Sinetron Sejak 2 Tahun Ini, Ada Apa?

Rita menjelaskan, draft regulasi pelabelan risiko BPA yang saat ini masih dalam proses revisi lanjutan di BPOM, mencakup aturan kewajiban bagi produsen memasang label peringatan potensi bahaya BPA pada galon guna ulang berbahan polikarbonat, jenis plastik yang pembuatannya menggunakan BPA.

"Yang diinginkan BPOM sebatas produsen memasang stiker peringatan. Jadi tidak ada isu tentang sampah plastik sama sekali. Jangan diputarbalikkan," kata Rita Endang.

Pernyataan tersebut merespon pandangan miring lobi industri air kemasan atas draft peraturan pelabelan risiko BPA.

Dalam berbagai kesempatan, asosiasi industri mengklaim pelabelan bakal memperbesar volume sampah plastik karena konsumen akan beralih ke kemasan galon sekali pakai yang notabene bebas BPA.

Baca juga: Banjir Rob Pantura, Ganjar Targetkan Bisa Dikerjakan Segera Dalam Dua Pekan

"Urusan sampah itu tanggung jawab masing-masing pelaku usaha, termasuk untuk sampah plastik sekali pakai. Produsennya lah yang bertanggung jawab agar sampah tersebut bisa didaurulang," ujarnya.

Rita juga menampik tudingan bahwa pelabelan BPA adalah vonis mati bagi industri air kemasan.

Menurut Rita, pandangan tersebut keliru karena pelabelan risiko BPA pada dasarnya hanya menyasar produk air galon bermerek alias punya izin edar.

"Regulasi pelabelan BPA tidak menyasar industri depot air minum," kata Rita menyebut sejauh ini sudah ada 6.700 izin edar air kemasan yang dikeluarkan BPOM.

Secara khusus, Rita merinci alasan rancangan regulasi pelabelan BPA menyasar produk galon guna ulang.

Saat ini sekitar 50 juta lebih warga Indonesia sehari-harinya mengkonsumsi air kemasan bermerek.

Dari total 21 miliar liter produksi industri air kemasan per tahunnya, katanya, 22 % di antaranya beredar dalam bentuk galon guna ulang.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved