Minyak Goreng Curah

Zahra Tolak Ikuti Aturan Pemerintah Soal Harga Jual Minyak Goreng Curah

Pedagang sembako di pasar tradisional yang menjual minyak goreng curah saat ini sedang galau. Sebab, mereka bakal merugi jika jual sesuai aturan.

Penulis: Rendy Rutama | Editor: Valentino Verry
warta kota/rendy rutama
Zahra, pedagang sembako di Pasar Kramatjati, Jakarta Timur, galau atas aturan pemerintah soal harga minyak goreng curah. Menurutnya, jika mengikuti, dia akan rugi. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Zahra (52) pedagang di pasar tradisional Kramatjati, Jakarta Timur merasa keberatan terkait rencana pemerintah untuk melakukan pencabutan subsidi minyak goreng.

Sebab penerapan kebijakan itu belum merata diterima penjual.

Baca juga: Satlantas Polres Karawang Tindak Tegas Mobil Pick Up yang Bawa Penumpang di Jalan Utama

"Kalau gitu sih keberatan saya, ibu mah biar namanya orang jualan gorengan juga selama ini kan juga nggak ada kan, selama minyak mahal kan, sekarang subsidi ada, tapi mau dicabut lagi," ucapnya, Jumat (27/5/2022).

Menurut Zahra, sebelumnya sempat dilakukan tinjauan terkait harga minyak goreng curah oleh Pangdam Jaya di pasar tradisional Kramatjati, Jakarta Timur.

Tinjauan tersebut dikatakan Zahra meminta pedagang untuk menjual minyak goreng curah dengan harga per liter yakni Rp 14.000, dan per kilogram Rp 15.500.

Baca juga: Merasa tak Ada Guna, Geng Motor XTC Deklarasi Pembubaran di Depan Kapolres Bogor

Menanggapi permintaan tersebut, ia mengatakan sangat keberatan.

Sebab arahan itu dijelaskannya dapat membuat pedagang tidak menjadi untung.

"Baru aja kemarin ada peninjauan kesini masalah minyak goreng, suruh jual per liter Rp 14.000, per kilogram Rp 15.500, kita mah belinya aja nggak dapet segitu kan, yang jelas keberatan, bukan ibu aja, semuanya juga saya yakin keberatan," jelasnya.

Baca juga: Keinginan Siti Fadia Hanya Sayur Asem dan Sambel Setelah Raih Emas SEA Games

Mengingat untuk mengeluarkan modal saja, ia harus merogoh kocek senilai Rp 16.250 per liter, dan belum juga memberikan ongkos kepada kurir.

"Dari agen satu jerigen itu Rp 260.000, kalau dibagi 16 kilogram maka modalnya jadi Rp 16.250," ungkapnya.

Pernyataan kontra lainnya berasal dari Masyuda (61), ia mengungkapkan keberatan dengan kebijakan yang rencana akan diterapkan pemerintah terkait pencabutan subsidi minyak goreng curah.

Ilustrasi minyak goreng curah.
Ilustrasi minyak goreng curah. (Warta Kota/ Rizki Amana)

Dari segi ini, ia menjelaskan persyaratan yang dikatakannya rumit membuatnya harus berpikir dua kali untuk bisa menerapkan kebijakan tersebut.

Menurut Masyuda, syarat dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah yakni untuk pembelian per lima jerigen harus menunjukkan 40 hingga 50 fotokopi KTP pembeli, hal itu dirasa memberatkan.

Sebab sulit untuk mencari fotokopi KTP sebanyak itu dari pembeli.

Baca juga: Manajemen PT KCI Ubah Pola Operasi KRL untuk Menghapus Budaya Menyebrang Rel

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved