Tawuran
Tawuran Remaja di Kota Bambu Utara dan Jatipulo Sudah Jadi Kebiasaan Turun Temurun
Diaz adalah korban tawuran yang tewas di lokasi kejadian Jalan Sanip, Kelurahan Jati Pulo, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat.
Penulis: Miftahul Munir | Editor: Dian Anditya Mutiara
Rumah Duka Korban Tawuran di Palmerah Dipenuhi Pelayat, Ada Tulisan 'Darah Dibayar Darah'
WARTAKOTALIVE.COM, PALMERAH - Rumah duka Muhammad Diaz korban tawuran dipenuhi puluhan pelayat dari keluarga, teman serta tetangga sekitar di Jalan Brigjen Katamso RT06/03, Kelurahan Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat pada Sabtu (9/4/2022).
Diaz adalah korban tawuran yang tewas di lokasi kejadian Jalan Sanip, Kelurahan Jati Pulo, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat.
Diaz mengalami luka bacok di dada sebelah kiri dan dua temannya terluka sabetan senjata tajam di punggung serta bagian kepalanya.
Di depan gang rumahnya, terpasang bendera kuning sebanyak tiga buah dan dijaga oleh barier kerucut.
Kemudian di barier kerucut ada dua sobekan kardus dan sebuah tulisan tangan menggunakan spidol bereana hitam.
Baca juga: Polsek Tamansari Deklarasi Anti Tawuran, Prihatin Remaja Isi Ramadan dengan Berkelahi
Bagian atas menuliskan 'Darah dibayar darah, by Belat' dan tulisan bawahnya nama lengkap almarhum Diaz.
Masuk ke dalam gang, bejajar pot bunga menyamping karena kendaraan roda dua tidak boleh melintas di depan rumah korban tawuran tersebut.
Kursi untuk pelayat sudah berjajar, mulai dari orang tua, pemuda, remaja berkumpul di depan rumah Diaz.
Mereka mengenakan baju koko dan peci untuk lelaki yang duduk di kursi dan sore, ada juga yang tak mengenakan baju muslim tapi mengenakan peci saja.
Sedangkan pelayat perempuan kebanyakan mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan hijabnya, meski hanya sekedar menempel di kepala.
Baca juga: Muhammad Diaz Tewas Disabet Celurit saat Sahur, di Gang Rumah Ada Tulisan Darah Dibayar Darah
Raut wajah sedih terlihat di kerumunan ibu-ibu, teman dan tetangganya di depan rumah pemuda kelahiran Jakarta 21 September 2002 silam.
Irsyad Muchtar warga sekitar mengatakan, tawuran antara Kota Bambu Utara dan Jati Pulo sudah terjadi sejak tahun 1980an.
Sehingga aksi ini sudah menjadi tradisi turun menurun dan terkadang orang tua dari kedua kelompok juga ikut membela anaknya.
"Kalau tulisan darah dibayar darah itu kan dari warga Kota Bambu Utara karena warga sini enggak ada yang tawuran, ya kita enggak tahu apakah bakalan ada serangan balik atau tidak" ucapnya.