Kamis, 16 April 2026

Perang Rusia Ukraina

Joe Biden Gertak Xi Jinping jika Bantu Rusia, tapi tak Berani Ungkap Sanksinya

Presiden AS Joe Biden menegur Presiden China Xi Jinping, jangan coba-coba bantu Rusia jika tak ingin dikenakan sanksi tegas.

Editor: Valentino Verry
AP/tribunnews.com
Presiden AS Joe Biden meminta China tak membantu Rusia menginvasi Ukraina kalau tak mau dikenakan sanksi tegas. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menegur Presiden China X Jinping, terkait invasi Rusia ke Ukraina.

Biden menengarai Tiongkok turut membantu Rusia, dan mengetahui rencana Presiden Rusia Vladimir Putin menginvasi Ukraina.

Jika benar demikian, Biden mengungkapkan tak sega memberi sanksi tegas pada Tiongkok.

Pernyataan ini disampaikan Penasehat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan.

Baca juga: Francine Widjojo Desak PTUN DKI Menangi Korban Banjir Kali Mampang

Dikutip dari laman Sputnik News, Selasa (15/3/2022), ia menjelaskan bahwa Presiden AS Joe Biden telah berkomunikasi dengan Partai Komunis China (PKC) yang berkuasa di China tentang konsekuensinya, namun menolak untuk menyampaikan rincian lebih lanjut.

"Saya tidak akan duduk di sini di depan umum dan menebarkan ancaman,” ujar Sullivan.

“Namun, apa yang akan saya katakan kepada Anda adalah bahwa kami berkomunikasi secara langsung, secara pribadi ke China bahwa pasti akan ada konsekuensi untuk upaya penghindaran sanksi skala besar atau dukungan kepada Rusia," imbuhnya.

Sullivan memang tidak merinci apakah AS berencana menghukum China atas intelijen yang menyatakan bahwa PKC mengetahui rencana Kremlin untuk memulai operasi militer khusus di Ukraina.

Seorang tentara Ukraina memegang Next Generation Light Anti-tank Weapon (NLAW) yang digunakan untuk menghancurkan kendaraan lapis baja pengangkut pribadi (APC) Rusia di Irpin.
Seorang tentara Ukraina memegang Next Generation Light Anti-tank Weapon (NLAW) yang digunakan untuk menghancurkan kendaraan lapis baja pengangkut pribadi (APC) Rusia di Irpin. (AFP via Getty Images)

Ia juga menghindari pertanyaan langsung tentang apakah Biden menganggap Presiden China Xi Jinping sebagai 'ko-konspirator' Presiden Rusia Vladimir Putin.

Namun, dirinya mengakui bahwa AS mencurigai PKC mengetahui rencana Kremlin sebelum 24 Februari 2022, saat operasi militer khusus di Ukraina mulai diberlakukan.

"Kami meyakini bahwa China, pada kenyataannya, menyadari sebelum invasi terjadi bahwa Vladimir Putin sedang merencanakan sesuatu,” katanya.

“Mereka mungkin tidak tahu sepenuhnya, karena sangat mungkin bahwa Putin berbohong kepada mereka dengan cara yang sama seperti ia berbohong ke negara Eropa dan lainnya," imbuh Sullivan.

Baca juga: Yusuf Mansur Mangkir Mediasi, Korban Tabung Tanah Resmi Menggugat

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa pemerintahan Biden memantau dukungan materi dan ekonomi yang diduga diperluas PKC ke Kremlin dan menegaskan bahwa itu adalah 'keprihatinan' bagi Gedung Putih.

AS dan sekutu dekatnya di seluruh dunia pun telah memberlakukan sanksi keras terhadap aset keuangan, penerbangan dan energi Rusia, serta bank sentral negara itu, karena peluncuran operasi militer khusus pada 24 Februari lalu di Ukraina.

Sementara Putin mengatakan bahwa dirinya terpaksa memulai serangan di tengah pengeboman yang terus berlanjut terhadap Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Lugansk (LPR), yang diduga dilakukan oleh pasukan Ukraina serta kegagalan Ukraina untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved