Breaking News:

Akses Jalan Diserobot

Pengusaha Jalan Dahwa Kota Tangerang Minta BPN Batalkan Sertifikat yang Diajukan Warga

Puluhan pengusaha di Jalan Dahwa, Kota Tangerang, resah akses jalan menyempit jika BPN menerbitkan sertifikat atas nama seorang warga.

Editor: Valentino Verry
Pengusaha Jalan Dahwa Kota Tangerang Minta BPN Batalkan Sertifikat yang Diajukan Warga
Istimewa
Jalan Dahwa di Kota Tangerang menjadi akses puluhan pabrik untuk melakukan aktivitas. Kini, jalan itu sebagian diklaim oleh seorang warga.

WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG - Sejumlah pengusaha yang berada di Jalan Dahwa RT 003/RW 001, Kecamatan Manis Jaya, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, resah akses jalan mereka menyempit.

Akibat ulah seorang warga berinisial RS yang secara sepihak mengajukan sertifikat sebagian akses jalan tesebut.  

Karena itu, para pengusaha di Jalan Dahwa meminta Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Tangerang, membatalkan penerbitan sertifikat  di Jalan Dahwa atas nama pribadi.

Baca juga: Saad Muafi Diperiksa soal Kasus Korupsi BOP, Helmi Felis: Teriak Sok NKRI dan Pancasila, Ternyata

Sebab, dengan penerbitan sertifikat itu, Jalan Dahwa yang semula memiliki lebar 8,5 meter menyempit jadi 3,5 meter.

Padahal selama 35 tahun ini ini, jalan tersebut telah digunakan oleh 49 industri yang ada di sana untuk aktivitas bongkar muat.

Namun, sejak pengajuan permohonan pembuatan sertifikat atas inisial RS pada tahun 2017 lalu, jalan itu terancam mengecil dan mengganggu proses keluar masuk mobil bongkar muat milik ke-49 perusahaan yang ada di sana.

“Kami minta BPN bisa membatalkan atau memblokir sertifikat tersebut. Karena jalan itu adalah jalan milik umum selama 35 tahun. Namun, dengan adanya pengakuan bahwa jalan tersebut telah dimiliki oleh orang pribadi, maka pasti aktivitas bongkar muat industri di sana akan terganggu,” ujar Direktur PT Anugerah Utama Abadi, Tony Halim kepada wartawan, Senin (7/2/2022).

Baca juga: Kirim Foto Porno ke Anak Didik, Pelatih Futsal di Cileungsi Terancam 6 Tahun Penjara

Tony Halim mengatan, bahwa Jalan Dahwa sangat dibutuhkan untuk menunjang aktivitas usaha yang selama ini banyak menyerap tenaga kerja.

“Jika aksesnya terganggu karena jalannya dikuasai oleh perorangan, jelas akan mempengaruhi usahan kami,” tutur Tony.

Hal senada diakui oleh General Manager General Affair PT Gajah Tunggal, Ismail. Dia menyatakan perusahaan yang bergerak di sektor produksi ban ini menghendaki BPN membatalkan sertifikat Jalan Dahwa yang dikuasai pribadi itu.

“Selama ini kami  (perusahaan-perusahaan yang ada di Jalan Dahwa) selalu merawat jalan itu. Kalau ada kerusakan, kami gotong royong memperbaiki, tapi mengapa tiba-tiba jalan ini dikuasai oleh perseorangan. Padahal selama 35 tahun, jalan itu sudah menjadi jalan umum sesuai dengan batas-batas yang ditetapkan BPN Kota Tangerang,” tuturnya.

Baca juga: Kepada Komnas HAM, Terbit Rencana Perangin Angin Akui Ada Korban Meninggal di Kerangkeng Miliknya

Ismail berharap BPN dapat membantu industri yang dirugikan oleh aktivitas penguasaan Jalan Dahwa tersebut.

“Kami berharap BPN melakukan pembelokiran terhadap sertifikat Jalan Dahwa karena jelas jika jalan dikuasai dan lebarnya menyempit, akan mengganggu proses bongkar muat  industri di sana. Bahkan dengan adanya upaya paksa pemagaran oleh oknum suruhan pemilik sertifikat, jelas akan mengganggu juga aktivitas produksi perusahaan-perusahan yang berada di Jalan Dahwa,” kata Ismail.

Sementara Oei Tjien Soan, pemilik pabrik furniture PT Sarana Interindo Mandiri juga berharap BPN dapat segera menyelesaikan sengketa pertanahan di Jalan Dahwa yang telah berlangsung beberapa tahun ini.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved