Sama-sama Tak Banding, KPK Bilang Perkara AKP Stepanus Robin Pattuju Sudah Inkrah

Tim jaksa setelah mempelajari pertimbangan majelis hakim, berpendapat seluruh analisa yuridis fakta hukum di persidangan telah dipertimbangkan.

Editor: Yaspen Martinus
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Perkara mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) AKP Stepanus Robin Pattuju telah berkekuatan hukum tetap alias inkrah. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Perkara mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) AKP Stepanus Robin Pattuju telah berkekuatan hukum tetap alias inkrah.

"Informasi yang kami peroleh, terdakwa Stepanus Robin P dkk telah menerima putusan majelis hakim."

"Dengan demikian saat ini perkara terdakwa Stepanus Robin Pattuju dkk telah mempunyai kekuatan hukum tetap."

Baca juga: Kompolnas Bilang Pejabat Boleh Pakai Pelat Nomor Dinas Polisi,Termasuk Anggota DPR?

"Sehingga jaksa eksekutor KPK segera melaksanakan putusan tersebut," ujar Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri, Sabtu (22/1/2022).

Kata Ali, tim jaksa setelah mempelajari pertimbangan majelis hakim, berpendapat seluruh analisa yuridis fakta hukum di persidangan telah dipertimbangkan.

"Untuk itu, KPK juga tidak mengajukan upaya hukum banding."

Baca juga: Bentrok Satgas Damai Cartenz dan KKB di Pegunungan Bintang Papua, Satu Polisi Tertembak di Dada

"Kami berharap PN Tipikor Jakarta Pusat dapat segera mengirimkan salinan petikan putusan perkara dimaksud," ucap Ali.

AKP Stepanus Robin Pattuju divonis hukuman 11 tahun penjara, dan denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan.

Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menyatakan Robin secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar pasal 12 huruf a UU Tipikor, dalam kasus penyuapan pengurusan perkara.

Robin terbukti menerima suap Rp11 miliar dan USD36 ribu atau total senilai Rp11,538 miliar.

Baca juga: Dugaan Korupsi Pengadaan Pesawat Garuda Indonesia Terjadi di Era Emirsyah Satar

Suap tersebut diberikan agar Robin mengurusi lima kasus korupsi di KPK.

"Menjatuhkan pidana dengan pidana penjara 11 tahun dan pidana denda Rp500 juta subsider enam bulan penjara," kata ketua majelis hakim Djuyamto membaca amar putusan, Rabu (12/1/2022).

Robin juga dijatuhi pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti sebesar Rp2,3 miliar subsider 1 tahun 6 bulan penjara.

Baca juga: Vaksinasi Booster Dimulai Hari Ini, yang Dosis 1 dan 2 Disuntik Sinovac Bakal Dapat Pfizer

Dalam penjatuhan putusan, hakim mempertimbangkan hal memberatkan dan meringankan.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved