Breaking News:

Virus Corona

Studi Terbaru: Dua Senyawa Ganja Bisa Cegah Covid-19 Masuki Sel Manusia

Dua senyawa ini diduga mampu mengikat protein lonjakan SARS-CoV-2 serta menghentikan virus memasuki sel manusia.

Editor: Yaspen Martinus
Tribunnews.com
Sebuah studi mengklaim senyawa ganja (cannabis) dapat memerangi infeksi yang disebabkan oleh Covid-19. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Sebuah studi mengklaim senyawa ganja (cannabis) dapat memerangi infeksi yang disebabkan oleh Covid-19.

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Oregon State University yang disebut 'Cannabinoids Block Cellular Entry of SARS-CoV-2 and the Emerging Variants' ini diterbitkan dalam Journal of Natural Products.

Dikutip dari laman Sputnik News, Jumat (14/1/2022), studi tersebut merujuk pada dua senyawa rami, asam cannabigerolic (CBGA) dan asam cannabidiolic (CBDA).

Baca juga: Ketua Jokowi Mania Bakal Polisikan Ubedillah Badrun karena Laporkan Dua Putra Presiden ke KPK

Dua senyawa ini diduga mampu mengikat protein lonjakan SARS-CoV-2 serta menghentikan virus memasuki sel manusia.

Para peneliti berpendapat dalam laporan itu, 'tersedia secara hayati dan dengan sejarah panjang penggunaan manusia yang aman, cannabinoid ini diisolasi atau dalam ekstrak rami, memiliki potensi untuk mencegah serta mengobati infeksi yang disebabkan SARS-CoV-2.'

Efek senyawa terhadap varian Alfa dan Beta pun telah diuji oleh para ilmuwan di laboratorium.

Baca juga: BPOM Izinkan Penggunaan Molnupiravir untuk Obati Pasien Covid-19 Gejala Ringan dan Sedang

Penelitian ini tidak menetapkan pemberian senyawa kepada orang atau membandingkan tingkat infeksi pada mereka yang menggunakan zat, dan kepada mereka yang tidak menggunakan.

Richard van Breemen, salah satu peneliti yang memimpin penelitian ini, mengklaim data penelitiannya menunjukkan CBDA dan CBGA efektif terhadap dua varian yang dilihat, yakni Alfa dan Beta.

"Dan kami berharap tren itu akan meluas ke varian lain yang ada dan yang akan datang," jelas van Breemen.

Baca juga: DPR Pastikan Jadwal Pemilu 2024 Ditetapkan Bulan Ini

Studi ini dilakukan di tengah penyebaran varian Omicron di dunia.

Menurut perkiraan terbaru dari Universitas Johns Hopkins, ada 317.186.004 kasus yang dikonfirmasi dengan lebih dari 5,5 juta kematian. (Fitri Wulandari)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved