Kamis, 16 April 2026

Berita Nasional

Aksi Ricuh Dinilai Ditunggangi Provokator, Warga Diminta Waspada

Aksi unjuk rasa kerap ricuh karena provokasi. Masyarakat diminta tetap damai dan tidak terpengaruh.

Editor: Dwi Rizki
Istimewa
UNJUK RASA - Koordinator Corong Rakyat, Ahmad. Dirinya menilai aksi unjuk rasa yang berujung ricuh sering dipicu provokator. Ia menegaskan penyampaian aspirasi adalah hak, namun harus tetap damai dan sesuai aturan. 

Ringkasan Berita:
  • Koordinator Corong Rakyat, Ahmad, menilai aksi unjuk rasa yang berujung ricuh sering dipicu provokator.
  • Ia menegaskan penyampaian aspirasi adalah hak, namun harus tetap damai dan sesuai aturan.
  • Ahmad juga mengapresiasi pendekatan humanis Polri dalam mengawal aksi.
  • Ia mengingatkan peran media sosial dalam menyebarkan provokasi dan mengajak masyarakat, khususnya pemuda, untuk tidak mudah terpengaruh serta menjaga persatuan.

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Maraknya aksi unjuk rasa yang berujung ricuh kembali menjadi sorotan publik.

Koordinator Corong Rakyat, Ahmad menilai fenomena tersebut tidak terjadi secara spontan, melainkan kerap ditunggangi oleh kelompok tertentu yang sengaja memprovokasi massa demi memecah belah persatuan bangsa.

Menurut Ahmad, pada dasarnya penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi. Namun, ia menegaskan adanya garis tegas yang tidak boleh dilanggar.

“Silakan menyampaikan aspirasi, itu hak. Tapi ingat, aksi boleh, anarkis jangan. Itu poin penting yang harus dijaga bersama,” tegasnya kegiatan Silaturahmi wujudkan situasi aman dan kondusif, di Roti Bakar Eddy H Nawi, Cilandak, Jakarta Selatan pada Rabu (15/4/2026).

Ia mengingatkan sering kali aksi yang awalnya damai berubah menjadi kericuhan akibat ulah segelintir pihak yang menyusup dan memprovokasi massa.

Ironisnya, dalam situasi tersebut, aparat kepolisian yang bertugas mengamankan justru kerap menjadi pihak yang disalahkan.

Lebih lanjut, Ahmad menekankan pentingnya komitmen bersama antara masyarakat dan aparat dalam menjaga ketertiban selama aksi berlangsung.

Ia menyoroti bahwa prosedur seperti pemberitahuan kepada kepolisian sebelum aksi digelar seharusnya dipatuhi demi terciptanya suasana damai.

Baca juga: Cina Ingatkan Tatanan Dunia Kiamat Akibat Blokade AS di Selat Hormuz, Usulkan 4 Doktrin Damai

“Tujuan kita menyampaikan aspirasi itu agar didengar, bukan untuk membuat kerusuhan. Kalau narasinya sudah negatif sejak awal, maka potensi konflik akan semakin besar,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ahmad juga memberikan apresiasi terhadap kinerja Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dinilainya semakin humanis dalam mengawal berbagai kegiatan masyarakat, termasuk aksi unjuk rasa.

Ia menilai, di bawah kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo, Polri terus berbenah dan terbuka terhadap kritik.

“Kita lihat sekarang pendekatannya lebih humanis. Polri hadir bukan hanya mengamankan, tapi juga mendukung penyampaian aspirasi masyarakat,” ungkapnya.

Ahmad juga menyoroti peran besar media sosial dalam membentuk opini publik sekaligus memobilisasi massa.

Ia mengingatkan bahwa platform digital kini kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan provokasi.

“Semua orang sekarang sudah punya media sosial. Ini jadi celah bagi kelompok tertentu untuk menyebarkan narasi negatif dan memecah belah masyarakat,” jelasnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved