Virus Corona

BPOM Izinkan Penggunaan Molnupiravir untuk Obati Pasien Covid-19 Gejala Ringan dan Sedang

Molnupiravir diberikan dua kali sehari sebanyak empat kapsul (@200 mg) selama lima hari.

Editor: Yaspen Martinus
Kompas.com
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan darurat alias emergency use authorization (EUA) untuk obat Molnupiravir, Kamis (13/1/2022). 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan darurat alias emergency use authorization (EUA) untuk obat Molnupiravir, Kamis (13/1/2022).

Obat Molnupiravir yang disetujui BPOM berupa kapsul 200 mg yang didaftarkan oleh PT Amarox Pharma Global dan diproduksi Hetero Labs Ltd, India.

Obat ini diindikasikan untuk pengobatan infeksi Covid-19 ringan hingga sedang pada pasien dewasa (usia 18 tahun ke atas), yang tidak memerlukan pemberian oksigen dan memiliki peningkatan risiko menjadi infeksi Covid-19 berat.

Baca juga: Airlangga Hartarto Diminta Tiru Gaya Komunikasi Dedi Mulyadi Tingkatkan Elektabilitas

Molnupiravir diberikan dua kali sehari sebanyak empat kapsul (@200 mg) selama lima hari.

Sebelumnya, BPOM telah menerbitkan EUA untuk beberapa obat Covid-19, di antaranya antivirus Favipiravir, antivirus Remdesivir, antibodi monoklonal Regdanvimab, dan kini Molnupiravir.

Molnupiravir dikembangkan oleh Merck Sharp & Dohme (MSD).

Baca juga: Jelang MotoGP Mandalika, Jokowi: Jangan Ada Lagi Kesalahan Membongkar Logistik Tanpa Seizin Tim

MSD telah memberikan voluntary licensing (VL) kepada beberapa produsen di India, salah satunya Hetero Labs Ltd, India.

Pemberian VL ini ditujukan untuk memenuhi akses kebutuhan suplai global dengan cepat, dan tetap memperhatikan mutu serta memberikan pilihan terhadap harga yang kompetitif.

“Setelah melalui evaluasi terhadap data-data hasil uji klinik bersama dengan Tim Ahli Komite Nasional Penilai Obat serta asosiasi klinisi untuk persetujuan EUA ini."

Baca juga: UPDATE Covid-19 di Indonesia 13 Januari 2022, Pasien Positif Tambah 793 Orang, 385 Sembuh, 5 Wafat

"Badan POM bersama Kementerian Kesehatan juga akan terus memantau keamanan penggunaan Molnupiravir di Indonesia,” ucap Kepala BPOM Penny K Lukito, dikutip dari laman pom.go.id.

Berdasarkan hasil evaluasi dari aspek keamanan, pemberian Molnupiravir relatif aman dan memberikan efek samping yang dapat ditoleransi.

Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah mual, sakit kepala, mengantuk, nyeri abdomen, dan nyeri orofaring.

Baca juga: Epidemiolog: Kalau Enggak Ada Vaksin, Omicron akan Berdampak Seperti Varian Delta

 Hasil uji non-klinik dan uji klinik, molnupiravir tidak menyebabkan gangguan fungsi hati.

Namun demikian, Molnupiravir tidak boleh digunakan pada wanita hamil.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved