Covid19

Gangguan Kecemasan dan Insomnia Mengintai Penyintas Covid-19

satu dari tiga orang penyintas Covid-19 akan mengalami gangguan saraf atau gangguan psikiatri dalam kurun waktu enam bulan setelah terinfeksi

Lifealth
Ilustrasi tidur tidak nyenyak 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Menurunya kasus positif Covid-19 cukup membuat tenang. 

Apalagi vaksinasi yang gencar dilakukan Pemerintah juga telah mencakup banyak orang.

Bahkan anak-anak usia 6-11 tahun yang sebelumnya belum mendapat juga sudah dilakukan vaksinasi.

Namun merebaknya varian Omicron mulai mengusik ketenangan itu.

Baca juga: Anak Muda Rentan Alami Gangguan Mental di Masa era Normal Baru Covid-19, ini Solusinya

Pasalnya, varian Omicron penyebarannya dinilai lebih cepat, yakni post-covid syndrome yang dapat menyerang tak hanya fisik, tetapi juga mental.

Sebuah studi observasional terhadap lebih dari 230.000 rekam medis pasien yang dimuat dalam jurnal The Lancet Psychiatry (April 2021), menyatakan bahwa satu dari tiga orang penyintas Covid-19 akan mengalami gangguan saraf atau gangguan psikiatri dalam kurun waktu enam bulan setelah terinfeksi virus Covid-19.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dr. Leonardi A. Goenawan, Sp.KJ mengatakan, gangguan psikiatri yang paling umum ditemukan menurut studi tersebut adalah insomnia dan gangguan kecemasan.

Sebanyak tiga belas persen dari pasien Covid-19 terdiagnosis mengalami keluhan ini.

Baca juga: Jangan Abaikan Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19, Ini Tandanya Bila ada Gangguan Mental

Diagnosis tersebut menjadi diagnosis pertama kali, artinya mereka tidak pernah memiliki riwayat gangguan tersebut sebelumnya.

Covid-somnia

Istilah “Covid-somnia” atau “Corona-somnia” mulai dikenal sekitar musim panas 2020 untuk menggambarkan dampak pandemi global terhadap pola tidur seseorang.

Data yang diperoleh dari hampir seluruh belahan dunia memperlihatkan adanya jumlah besar populasi yang mengalami kesulitan tidur.

Pada 2020, British Sleep Society melaporkan bahwa kurang dari separuh penduduk Inggris mendapatkan "tidur yang menyegarkan".

Sementara di Amerika Serikat, masalah kurang tidur sudah dianggap sebagai epidemi oleh CDC (Centers for Disease Control).

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved