Kesehatan Mental

Anak Muda Rentan Alami Gangguan Mental di Masa era Normal Baru Covid-19, ini Solusinya

Berbeda dengan penanganan kesehatan fisik, penanganan kesehatan mental masih banyak kendala dan belum jadi prioritas.

Intisari-online/paradigmmalibu.com
Ilustrasi gangguan mental 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -  Berbeda dengan penanganan kesehatan fisik, penanganan kesehatan mental masih banyak kendala dan belum jadi prioritas.

Selain tenaga ahli yang masih kekurangan, mendatangi klinik psikologi atau kesehatan jiwa masih banyak yang sungkan.

Apalagi anak muda

Padahal  bila berlarut-larut, gangguan kesehatan mental sama bahayanya dengan gangguan kesehatan fisik.

Baca juga: Medsos Salah Satu Platform yang Sangat Berpengaruh pada Kesehatan Mental, Kurangi Efek Negatifnya

Baca juga: Jangan Abaikan Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19, Ini Tandanya Bila ada Gangguan Mental

Di masa kenormalan baru  pandemi Covid-19, telah meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mengambil langkah preventif dalam penatalaksanaan kesehatan yang menyeluruh.  

Salah satu caranya adalah dengan menjaga kesehatan mental dan fisik sebagai aspek penting dalam kesehatan seseorang, dimana intervensi kesehatan sejak dini akan membantu masyarakat Indonesia sadar dan peduli terhadap kondisi kesehatannya secara umum. 

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan adanya lebih dari 19 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami masalah mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami depresi.   

Saat ini, prevalensinya di Indonesia meningkat tajam, yaitu 1 dari 5 orang atau 20 persen dari populasi berisiko mengalami masalah kesehatan mental. Artinya masalah kesehatan mental bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak muda.

Baca juga: Good Doctor Komitmen Beri Layanan Konsultasi Dokter dan Obat Gratis untuk Pasien Covid yang Isoman

Menurut Jenyffer, M.Psi, Psikolog Klinis, situasi pandemi Covid-19 membuat milenial sangat rentan mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi dan ansietas. 

Masa pandemi membuat mereka sering kali merasa diabaikan, terbatasnya ruang untuk mengekspresikan diri dan bersosialisasi.  

Menurutnya,  yang dapat dilakukan anak muda agar kuat mental selama pandemi adalah dengan melihat rasa cemas sebagai alat bantu untuk mengambil tindakan agar tetap bisa berkembang dalam situasi sulit, temukan cara baru untuk berinteraksi dengan teman, fokus pada  diri sendiri agar bisa menemukan cara produktif untuk bertahan di masa pandemi.

"Dengan berkembangnya layanan kesehatan mental di Indonesia, banyak yang masih perlu dilakukan untujk menurunkan stigma yang diasosiasikan dengan kesehatan mental dan mendorong diskusi tentang kesehatan mental," ujar Jenyffer  saat diskusi Good Doctor dan LSPR bermitra meluncurkan serial edukasi "Good Knowledge, Good Health, untuk Meningkatkan Literasi Kesehatan Generasi Muda" belum lama ini.

Baca juga: Resmi Diluncurkan, Aplikasi Good Doctor Jadi Mitra Kementerian Kesehatan Berbasis Telemedicine

Dari sekitar 10 ribu Puskesmas di Indonesia, baru 60 persen Puskemas yang memberikan layanan kesehatan mental.  

Dari sisi tenaga profesional yang menangani kesehatan mental, Indonesia juga masih kekurangan.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved