Pengusaha Minta Kebijakan Bebas Truk Muatan Berlebih atau ODOL Ditunda Hingga 2025
Sektor ini katanya termasuk salah satu bantalan untuk menyokong pertumbuhan ekonomi nasional.
Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Budi Sam Law Malau
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Rencana penerapan kebijakan angkutan truk bebas muatan berlebih atau Over Dimension Over Load (ODOL) oleh pemerintah per 1 Januari 2023, dianggap kurang bijak karena terlalu dipaksakan.
Sebab pandemi Covid-19, belum jelas kapan akan berakhir dan tahun 2023 adalah masa recovery ekonomi untuk mengejar ketertinggalan yang terjadi karena dampak Covid-19.
Karenanya sejumlah pihak meminta kebijakan ODOL ditunda.
Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik Gabungan Asosiasi Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Rachmat Hidayat mengatakan pandemi Covid-19 mengakibatkan krisis berantai, terutama di sektor pangan.
Juga mengakibatkan harga minyak sayur, biji-bijian, susu, daging, gula mengalami kenaikan.
“Ada yang mengalami kenaikan sangat tajam, ada yang sedang. Tapi semuanya mengalami kenaikan. Padahal itu semua adalah bahan baku yang sangat kita butuhkan di industri makanan dan minuman,” katanya dalam diskusi publik bertema "Kesiapan Pemerintah dan Industri Menghadapi Indonesia Bebas ODOL 2023' yang diselenggarakan SHNet di Jakarta, Senin (20/12/2021).
Rachmat mengatakan industri makanan dan minuman di tengah krisis karena pandemi Covid-19, masih bisa tumbuh 1,58% pada tahun 2021.
Baca juga: Selebgram Keanu Angelo: Coba Dia Ada Itikad Baik dari Awal, Ya Mungkin Permasalahan Tak akan Panjang
Baca juga: Bakal Laporkan Balik Husin Shihab, Eggi Sudjana: Polisi Harus Terima
Baca juga: PLN Mobile Proliga Bergulir Tanpa Penonton dan Terapkan Prokes Ketat, Penggemar Nonton di Rumah
Sektor ini termasuk salah satu bantalan untuk menyokong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ini industri pangan yang rantainya terintegrasi satu dengan yang lainnya. Kalau ada satu saja yang terhambat, semua yang lainnya akan itu kena dampaknya,”kata Rachmat.
Karenanya jika kebijakan ODOL diterapkan maka akan menghambat laju pertumbuhan sektor ini yang mulai menggeliat.
Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP), Yustinus Gunawan, pada forum yang sama mengatakan saat ini banyak pengusaha menjalankan usaha hanya untuk bertahan agar tidak menutup tempat usaha.
Ketidakjelasan kapan akan berakhirnya Covid-19 membuat sejumlah pelaku usaha kesulitan melakukan adaptasi dan terobosan-terobosan bisnis baru.
Namun, Yustinus mengungkapkan bahwa industri lembaran kaca dan pengaman masih bisa tumbuh di masa pandemi Covid-19.
“Kita sekarang sudah mulai pulih, bahkan mencapai 80-an persen,” katanya.
Situasi ini diharapkan bisa dijaga sehingga recovery ekonomi bisa berjalan dengan cepat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/m-popik-montanasyah.jpg)