Breaking News:

Virus Corona

Hipotesis Ilmuwan Rusia: Omicron Sangat Menular tapi Tak Mematikan

Pernyataan ini disampaikan oleh Profesor Anatoly Altshtein, Kepala Peneliti di Institut Penelitian Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya Rusia.

Editor: Yaspen Martinus
Niaid RML
Ilmuwan Rusia pencipta vaksin Sputnik V menduga struktur Omicron menunjukkan varian baru Covid-19 itu 'bisa sangat menular, namun kurang mematikan.' 

WARTAKOTALIVE, MOSKWA - Ilmuwan Rusia pencipta vaksin Sputnik V menduga struktur Omicron menunjukkan varian baru Covid-19 itu 'bisa sangat menular, namun kurang mematikan.'

Banyaknya mutasi pada Omicron merupakan tanda varian itu memiliki 'genom yang tidak stabil,' yang membuatnya lebih sulit untuk menyebabkan penyakit pada pasien.

Pernyataan ini disampaikan oleh Profesor Anatoly Altshtein, Kepala Peneliti di Institut Penelitian Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya Rusia.

Baca juga: KPU dan Pemerintah Tak Kunjung Sepakat, Pembahasan Jadwal Pemilu 2024 Bakal Dilanjut Tahun Depan

"Jika itu benar, kemungkinan besar itu adalah virus yang melemah."

"Varian itu bisa memiliki transmisi yang baik, namun juga bisa memiliki patogenisitas yang sangat berkurang," tutur Prof Altshtein.

Dikutip dari laman Russia Today, Kamis (2/12/2021), Altshtein menunjukkan fakta sejauh ini sebagian besar pasien yang diketahui terinfeksi Omicron, menunjukkan gejala ringan.

Baca juga: Siap-siap! Varian Omicron Sudah Sampai di Singapura

Ini tentu memberikan harapan varian baru ini kemungkinan memang lebih menular, namun bersifat kurang mematikan dibandingkan varian sebelumnya.

"Itulah mengapa saya percaya tidak ada bahaya besar dalam varian virus ini. Namun itu hipotesis saya, belum terbukti," papar Prof Altshtein.

Peneliti menambahkan, diperlukan lebih banyak waktu untuk mempelajari Omicron dan bagaimana varian itu bisa mempengaruhi semua kelompok populasi, termasuk orang tua.

Baca juga: Calon Anggota KPU-Bawaslu Periode 2022-2027 Sisa 48 Orang, 16 di Antaranya Perempuan

Mutasi strain baru yang muncul kali pertama di Afrika Selatan ini telah memicu kekhawatiran diantara para ahli di seluruh dunia.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved