Minggu, 3 Mei 2026

Kesehatan

Pentingnya Pencegahan dan Penanganan Kesehatan Bagi Ibu dan Anak Lahir Prematur

Setiap tahun diperkirakan 15 juta anak di seluruh dunia lahir sebelum waktunya (lebih dari 3 minggu sebelumnya). 

Tayang:
Penulis: Ign Agung Nugroho |
Wartakotalive.com/Ignatius Agung Nugroho
Dokter Rima Irwinda (kiri) dalam webinar bertajuk "Tantangan dan Penanganan Kesehatan bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur" yang digelar Specialized Nutrition Indonesia (Danone SN Indonesia), Rabu (17/11/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Riset dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 1 dari 10 anak lahir prematur.

Setiap tahun diperkirakan 15 juta anak di seluruh dunia lahir sebelum waktunya (lebih dari 3 minggu sebelumnya). 

Di Indonesia, mengacu data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2019 menunjukkan bahwa 84 persen kematian pada anak yang baru lahir di Indonesia disebabkan oleh kelahiran prematur.

Menurut Dr dr Rima Irwinda, Sp.OG(K), Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaterna, 
semakin pendek masa kehamilan, semakin besar pula risiko kematian dan morbiditas (derajat kesakitan).  

"Anak yang lahir secara prematur memiliki risiko lebih tinggi lahir dengan masalah kesehatan serius dan jangka panjang," kata dokter Rima.

Dokter Rima menyampaikan hal itu dalam webinar bertajuk "Tantangan dan Penanganan Kesehatan bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur" yang digelar Specialized Nutrition Indonesia (Danone SN Indonesia), Rabu (17/11/2021) lalu.

Baca juga: Paparan polusi udara selama kehamilan berdampak pada berat lahir rendah dan kelahiran prematur.

Baca juga: Ambulans Bawa Bayi Prematur, Terhalang Mobil Pribadi di Ciputat

Dokter Rima mengatakan, urgensi pertumbuhan anak lahir prematur, salah satunya adalah menerima perhatian dan stimulasi untuk perkembangan jangka panjang. 

"Selain si kecil, Ibu juga perlu mendapatkan perhatian untuk memulihkan diri. Ibu yang melahirkan prematur memiliki kekhawatiran berlebih, stres, dan juga kelelahan karena si kecil harus diperhatikan lebih ekstra," katanya.

Ia menjelaskan, faktor risiko yang berpotensi menyebabkan kelahiran prematur dapat dikategorikan dalam tiga karakteristik, yakni karakteristik ibu, karakteristik nutrisi, dan karakteristik kehamilan.

Karakteristik ibu terkait usia, kebiasaan merokok, dan kondisi psikologis ibu. 

Baca juga: Wanda Hamidah Sebut Almarhumah Citra Soeroso Istri Chico Hakim Meninggal Setelah Melahirkan Prematur

Faktor risiko berdasarkan karakteristik nutrisi terkait indeks massa tubuh, kenaikan berat badan selama kehamilan, kebiasaan makan, kebiasaan minum kopi, dan konsumsi suplementasi. 

Sedangkan faktor risiko berdasarkan karakteristik kehamilan meliputi riwayat persalinan, riwayat memiliki anak kembar, masalah kesehatan selama kehamilan, dan riwayat pemeriksaan USG.

Oleh sebab itu, hal utama yang harus dilakukan adalah memberikan edukasi untuk mendukung kehamilan yang sehat, konsultasi kepada ahlinya, dan menekankan pentingnya memahami faktor risiko kelahiran prematur

Lebih lanjut dokter Rima mengatakan, riwayat kelahiran dapat meningkatkan risiko prematur bagi ibu yang memiliki riwayat abortus (1,9 kali lebih berisiko), riwayat persalinan prematur (3 kali lebih berisiko), dan riwayat persalinan caesar (2,9 kali lebih berisiko). 

Baca juga: Melahirkan Prematur di Rumah, Seorang Ibu di Kebon Pala Dievakuasi Personel Gulkarmat

"Selain itu, usia ibu melahirkan kurang dari 19 atau lebih dari 35 tahun, stress maternal yang dialami ibu, dan jumlah cairan ketuban yang tidak normal juga dapat meningkatkan risiko preterm (prematur)," ujar dokter Rima.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved