Senin, 20 April 2026

Ekowisata dan Eduwisata Sungai Ciliwung Diluncurkan

Ekowisata dan Eduwisata Ciliwung ditandai dengan peresmian Pintu Gerbang Jembatan Pantau di Jalan Penjernihan, Karet Bivak, Jakarta Pusat, Sabtu

Penulis: Ign Agung Nugroho | Editor: Budi Sam Law Malau
Warta Kota/ Ign Agung Nugroho
Peluncuran Ekowisata dan Eduwisata Ciliwung yang ditandai dengan peresmian Pintu Gerbang Jembatan Pantau di Jalan Penjernihan, Karet Bivak Jakarta Pusat, Sabtu (13/11/2021). 

Ketua KPC Pejaten, H. Royani,  mengungkapkan, di Sekolah Sungai KPC Pejaten masyarakat bisa melihat hewan purba endemik dan langka yaitu Senggawangan atau Bulus raksasa (Chitra Chitra javanensis).

Hewan yang ditemukan pada 11 November 211 itu, memiliki berat 300 kilogram.

"Tidak hanya itu, para pengunjung juga dapat mempelajari budaya masyarakat sepanjang Sungai Ciliwung sekaligus menikmati makanan dan minuman khas betawi seperti dodol dan bir pletok," katanya  

Ketua Jawarapeci Condet, Bang Syamsul, menjelaskan tempatnya ada proses pengolahan sampah anorganik seperti bekas botol air mineral dan lainnya yang diubah menjadi produk atau karya seni.

Hal itu, seperti membuat cindera mata, seperti ondel – ondel, tas dan beberapa produk lain. 

Ketua Sahabat Sungai Depok, Dayat menambahkan, setiap hari mereka memberikan edukasi tentang water rescue dan menyajikan wisata rafting outbond dan susur sungai agar masyarakat lebih peduli kepada Sungai Ciliwung.

Ketua KPC Lenteng Agung, Sarmili menyampaikan, di lokasi mereka menyajikan kegiatan susur sungai dengan suasana taman.

"Sehingga para pengunjung dari titik awal hingga akhir dapat menikmati pemandangan taman-taman yang bagus dan indah," katanya.

Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa belajar tentang kerajinan tangan dan berbagai produk inovatif seperti eco print dan produk kreatif lainnya. 

Sedangkan menurut Ketua KPC Bogor, Soeparno, Ketua KPC Bogor, menyatakan, pihaknya setiap minggu melakukan aktivitas membersihkan sampah di sungai, sebagai bagian dari edukasi dan ajakan supaya banyak pemuda yang ikut terjun membantu membersihkan sampah di sungai. 

Selain itu, juga ada titik menarik dan bagus, seperti di titik Delta yang masih sangat natural. 

"Dengan aktivitas rutin yang dilakukan secara konsisten, kami berharap banyak anggota dari berbagai komunitas mulai dari komunitas Gowes hingga public figure atau artis turut berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih sampah sungai. Sehingga pelestarian Sungai Ciliwung bisa lebih cepat membuahkan hasil," ujar Soeparno.

GCB didirikan pada tahun 1989 yang kala itu, diinisiasi oleh instansi pemerintah, yakni Gubernur DKI Jakarta, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Pekerjaan Umum, BPLHD DKI Jakarta, Perguruan Tinggi, LSM, WALHI, dan DML. 

GCB merupakan Organisasi Sosial yang menggalang kepedulian masyarakat bersama LSM, Perguruan Tinggi, Instansi Pemerintah, Swasta dan Stakeholder.

Misi dari GCB adalah menggalang persatuan dan musyawarah untuk pengembangan perencanaan pemeliharaan serta kebersihan daerah aliran Sungai Ciliwung. (ign)

Sumber: WartaKota
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved