Senin, 20 April 2026

Ekowisata dan Eduwisata Sungai Ciliwung Diluncurkan

Ekowisata dan Eduwisata Ciliwung ditandai dengan peresmian Pintu Gerbang Jembatan Pantau di Jalan Penjernihan, Karet Bivak, Jakarta Pusat, Sabtu

Penulis: Ign Agung Nugroho | Editor: Budi Sam Law Malau
Warta Kota/ Ign Agung Nugroho
Peluncuran Ekowisata dan Eduwisata Ciliwung yang ditandai dengan peresmian Pintu Gerbang Jembatan Pantau di Jalan Penjernihan, Karet Bivak Jakarta Pusat, Sabtu (13/11/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Pada momentum peringatan Hari Ciliwung 2021 kali ini, komunitas Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) memperkenalkan Ekowisata dan Eduwisata Ciliwung. 

Dengan hadirnya destinasi tersebut, masyarakat dan pelajar dapat berwisata di Sungai Ciliwung, sambil mempelajari seluk beluk sungai, sejarah Sungai Ciliwung, upaya pelestarian sungai, biota sungai dan lainnya.

Peluncuran Ekowisata dan Eduwisata Ciliwung ini, ditandai dengan peresmian Pintu Gerbang Jembatan Pantau di Jalan Penjernihan, Karet Bivak, Jakarta Pusat, Sabtu (13/11/2021).

Ketua GCB, Peni Susanti mengatakan, setelah 31 tahun, akhirnya upaya yang mereka lakukan menunjukkan hasil yang sangat positif. 

Seperti mutu air Sungai Ciliwung telah mencapai level 2, yang artinya layak sebagai pasokan air minum, serta memungkinkan berkembangbiaknya biota air seperti ikan, udang, dan lainnya. 

Perkembangan ini, juga memotivasi mereka untuk terus meningkatkan animo masyarakat agar peduli pada kelestarian Sungai Ciliwung

"Inilah saatnya kami kenalkan wajah baru Sungai Ciliwung sebagai alternatif tujuan wisata di Jakarta sambil menimba ilmu tentang sungai, pelestarian sungai dan lingkungan sekitar sungai," kata Peni dalam sambutannya.

Baca juga: Sempat Terkendala Anggaran, Pemprov DKI Lanjutkan Pembebasan 118 Bidang Lahan di Sungai Ciliwung

Baca juga: Pembebasan Lahan Terus Berlanjut, Sasar 118 Bidang Lahan di Bantaran Sungai Ciliwung

Baca juga: Kangen dan Rindu Berat Keluarga, Marcus Gideon Boyong Istri dan Kedua Anaknya ke Bali

Dalam merealisasikan Ekowisata dan Eduwisata Ciliwung ini, GCB didukung sekitar 36 Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dan beberapa perusahaan seperti Indofood, Indonesia Power, PLN dan PAM Jaya.

Dukungan banyak pihak tersebut, direalisasikan dengan mempersiapkan Sungai Ciliwung menjadi tempat belajar sekaligus untuk menikmati wisata sungai. 

Menurut Peni, visi GCB adalah mewujudkan wisata Sungai Ciliwung, seperti memiliki sekolah sungai yang kompeten dan menjadi lembaga yang memiliki produk serta jasa bernilai tinggi dalam bidang pendidikan dan pelatihan pelestarian sungai melalui Sekolah Sungai.

Baca juga: Selalu Terkesan Nonton Losmen Bu Broto, Mathias Muchus: Film Ini Kejutan, Diluar Ekspektasi Saya

Baca juga: Posisi Ranking Satu Dunianya Terancam Diambil Viktor Axelsen, Kento Momota Tidak Terlalu Pikirkan

Baca juga: ARTIS Cantik Ini Kerap Dijodohkan Netizen dengan Kevin Sanjaya, Ternyata Begini Kriterianya

"Sebagai tujuan ekowisata dan eduwisata, ada beberapa titik lokasi wisata yang bisa dikunjungi masyarakat," ujarnya.

Sedangkan di Sekretariat GCB yang terletak di Jalan Penjernihan, Karet Bivak, masyarakat bisa mempelajari sejarah Sungai Ciliwung di Galeri Sungai Ciliwung.

Selain itu juga, bisa mempelajari pemilahan dan pengolahan sampah sungai dengan TOSS (Teknologi Olah Sampah Sungai) melalui metode peyeumisasi, susur sungai, memanen hasil hidroponik ventikultur sambil menikmati kopi di Kedai pinggir Sungai Ciliwung.

Baca juga: Ahli Virus: Terpapar Covid-19 Belum Tentu Terinfeksi, Ini Penjelasannya

"Kami berharap Ekowisata dan Eduwisata Ciliwung ini dapat mengubah paradigma menjadikan sungai sebagai potensi untuk kehidupan dan penghidupan," kata Peni. 

Lalu hal apa saja yang ada di Ekowisata dan Eduwisata Ciliwung?

Ketua KPC Pejaten, H. Royani,  mengungkapkan, di Sekolah Sungai KPC Pejaten masyarakat bisa melihat hewan purba endemik dan langka yaitu Senggawangan atau Bulus raksasa (Chitra Chitra javanensis).

Hewan yang ditemukan pada 11 November 211 itu, memiliki berat 300 kilogram.

"Tidak hanya itu, para pengunjung juga dapat mempelajari budaya masyarakat sepanjang Sungai Ciliwung sekaligus menikmati makanan dan minuman khas betawi seperti dodol dan bir pletok," katanya  

Ketua Jawarapeci Condet, Bang Syamsul, menjelaskan tempatnya ada proses pengolahan sampah anorganik seperti bekas botol air mineral dan lainnya yang diubah menjadi produk atau karya seni.

Hal itu, seperti membuat cindera mata, seperti ondel – ondel, tas dan beberapa produk lain. 

Ketua Sahabat Sungai Depok, Dayat menambahkan, setiap hari mereka memberikan edukasi tentang water rescue dan menyajikan wisata rafting outbond dan susur sungai agar masyarakat lebih peduli kepada Sungai Ciliwung.

Ketua KPC Lenteng Agung, Sarmili menyampaikan, di lokasi mereka menyajikan kegiatan susur sungai dengan suasana taman.

"Sehingga para pengunjung dari titik awal hingga akhir dapat menikmati pemandangan taman-taman yang bagus dan indah," katanya.

Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa belajar tentang kerajinan tangan dan berbagai produk inovatif seperti eco print dan produk kreatif lainnya. 

Sedangkan menurut Ketua KPC Bogor, Soeparno, Ketua KPC Bogor, menyatakan, pihaknya setiap minggu melakukan aktivitas membersihkan sampah di sungai, sebagai bagian dari edukasi dan ajakan supaya banyak pemuda yang ikut terjun membantu membersihkan sampah di sungai. 

Selain itu, juga ada titik menarik dan bagus, seperti di titik Delta yang masih sangat natural. 

"Dengan aktivitas rutin yang dilakukan secara konsisten, kami berharap banyak anggota dari berbagai komunitas mulai dari komunitas Gowes hingga public figure atau artis turut berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih sampah sungai. Sehingga pelestarian Sungai Ciliwung bisa lebih cepat membuahkan hasil," ujar Soeparno.

GCB didirikan pada tahun 1989 yang kala itu, diinisiasi oleh instansi pemerintah, yakni Gubernur DKI Jakarta, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Pekerjaan Umum, BPLHD DKI Jakarta, Perguruan Tinggi, LSM, WALHI, dan DML. 

GCB merupakan Organisasi Sosial yang menggalang kepedulian masyarakat bersama LSM, Perguruan Tinggi, Instansi Pemerintah, Swasta dan Stakeholder.

Misi dari GCB adalah menggalang persatuan dan musyawarah untuk pengembangan perencanaan pemeliharaan serta kebersihan daerah aliran Sungai Ciliwung. (ign)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved