Kamis, 11 Juni 2026

Berita Nasional

UNAIDS Dukung Kelompok Marjinal Indonesia Bangkit dari Pandemi Covid-19

UNAIDS Dukung Kelompok Marjinal Indonesia Bangkit dari Pandemi Covid-19. Berikut Selengkapnya

Tayang:
Penulis: Dwi Rizki | Editor: Dwi Rizki
Istimewa
briefing pers PBB di Indonesia bertajuk Upaya Pemulihan Covid-19 Melalui Respon Sosial dan Ekonomi' pada Kamis (15/10/2021).  

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - 41 tahun – sejak pertama kali ditemukan sekitar tahun 1980-an di New York dan Los Angeles – HIV masih menjadi persoalan global.

Di Indonesia, diestimasikan ada sekitar 543.000 orang dengan HIV yang secara epidemi terkonsentrasi di 4 kelompok populasi kunci.

Yaitu laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, transgender perempuan, pekerja seks, dan pengguna narkotika suntik. 

Menurut catatan UNAIDS, program gabungan PBB untuk penanggulangan epidemi AIDS, 4 kelompok populasi kunci ini termasuk golongan yang sangat terdiskriminasi di Indonesia. 

Human Rights and Gender Advisor UNAIDS Indonesia, Yasmin Purba mencontohkan, dalam konteks pendidikan, misalnya, seorang transgender perempuan seringkali mengalami bullying bahkan sejak di sekolah dasar. 

Hal tersebut disampaikan Yasmin saat menjadi pembicara dalam briefing pers PBB di Indonesia bertajuk Upaya Pemulihan Covid-19 Melalui Respon Sosial dan Ekonomi' pada Kamis (15/10/2021). 

“Situasi ini mendemotivasi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Nah begitu juga dengan populasi kunci lainnya. Bentuk-bentuk diskriminasi itu membuat pendidikan menjadi tidak aksesibel bagi mereka,’ kata Yasmin dalam siaran tertulis pada Minggu (17/10/2021).

Baca juga: Dani Ramdan Optimistis UHC Kabupaten Bekasi Kembali Naik di Angka 95 Persen

Ketika tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kelompok ini akan sulit mengakses pekerjaan layak. 

“Sehingga banyak sekali yang bekerja di sektor-sektor non formal, atau bekerja di sektor precarious job, misalkan pekerja seks atau pengamen di jalan. Tidak ada kepastian kerja, tidak ada kepastian income,” sesal Yasmin. 

Ketika pandemi covid-19 datang, berbagai pembatasan aktivitas dan sosial membuat hidup kelompok yang termajinalkan semakin berat. 

Baca juga: Pemkab Bekasi-UPI Bangun Kerja Sama Pembangunan SDM

“Betul-betul terasa sekali, kalau kita melihat dari beberapa penemuan, misalnya dari Jaringan Indonesia Positif yang melakukan survei terhadap lebih dari 1.000 orang HIV, menunjukkan ada sekitar 46% responden di awal pandemi 2020 yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan, 44% kehilangan pendapatan, dan 19% tidak mampu membayar sewa tempat tinggalnya,” papar Yasmin. 

Terdengar ironis, ketika pemerintah menganjurkan warganya untuk “Stay at Home”, ada kelompok masyarakat yang justru tidak sanggup mempertahankan rumah mereka. 

“Artinya marjinalisasi ini membuat mereka harus keluar dari rumah, satu-satunya tempat mereka berlindung, atau juga satu-satunya tempat yang diharapkan bisa menjadi tempat mereka mengisolasi diri agar tidak menyebarkan covid-19,” ucapnya. 

Pada titik inilah UNAIDS mengambil peran, untuk memastikan tidak ada kelompok yang ditinggalkan. 

Baca juga: Ancaman Pidana di Atas Lima Tahun, Polisi Menahan Pelaku KAZ yang Diduga Mencabuli Anak di Kembangan

Dalam konteks program bersama Multi-Partner Trust Fund (MPTF), UNAIDS Indonesia berupaya menjembatani kesenjangan bagi orang-orang dengan HIV dan populasi kunci, agar dapat terlindungi dari efek ekonomi sosial akibat pandemi. 

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved