Wawancara

Trias Kredensial: Radikalisme Agama, Intoleransi dan Ekstremisme (1)

Saatnya Muhammadiyah dan NU bergandeng tangan untuk menyelamatkan masa depan bangsa dari rongrongan atas tatanan dan norma dasar kehidupan berbangsa d

Youtube/Trias Kredensial
Dr Zuly Qodir S.Ag, M.Ag, sosiolog Universitas Gajahmada, dosen pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 

Fundamentalisme dan radikalisme sayangnya dimaknai sebagai hal yang negatif. Yaitu tidak menghargai adanya keragaman. Darimana gagasan itu muncul?

Pertama, orang yang berbeda itu tidak perlu dihargai, tidak perlu ditoleransi. Kedua, ingin mengembalikan hal-hal yang asli.

Ketiga, adanya kecurigaan kepada orang yang berbeda. Ini menyebabkan ketakutan-ketakutan yang luar biasa, yang akhirnya menyebabkan pobia. Pobia dengan orang yang berpaham, berkeyakinan, berideologi politik yang berbeda. Jadi, harus sama.

Sehingga muncul (paham) radikalisme, intoleransi karena ada orang yang mengalami ketakuran yang luar biasa.

Lalu, mengapa ada yang berpendidikan tinggi kok bisa terpengaruh radikalisme?

Pertama, dari soal bacaan. Kedua, latar belakang pengalaman masa lalu hidup susah. Ketiga, pergaulan yang salah. Kata Buya Syafii Ma'arif, pergaulan seratus meter.

Karena takut kehilangan yang asali. Takut kehilangan pengikut dan pengaruh. Otoritas seakan-akan tidak ada kalau dia tidak membangun kebenaran mutlak.

Padahal kebenaran mutlak itu tidak ada. Semua yang ada di kita itu adalah menafsirkan fenomena. Menafsirkan teks.

Ikuti wawancara selengkapnya Trias Kuncahyono dengan Dr Zuly Qodir di video di atas.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved