Wawancara
Trias Kredensial: Radikalisme Agama, Intoleransi dan Ekstremisme (1)
Saatnya Muhammadiyah dan NU bergandeng tangan untuk menyelamatkan masa depan bangsa dari rongrongan atas tatanan dan norma dasar kehidupan berbangsa d
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Negara ini dibentuk berdasarkan kesepakatan tatanan yang melahirkan norma-norma kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa.
Radikalisme agama, gerakan-gerakan intoleransi, dan ekstremisme melanggar tatanan ideologis bangsa.
Karena itu tidak boleh tumbuh hidup, dan berkembang di lingkup negara.
Video: Trias Kredensial Bersama Zuly Qodir: Radikalisme Agama, Intoleransi dan Ekstremisme
Celakanya, virus radikalisme agama, intoleransi, dan ekstremisme sudah menjangkiti anak-anak muda.
Meski persentasenya belum besar, tetapi diseminasinya lewat media sosial, khususnya, membahayakan dan mengancam keutuhan NKRI.
Negara harus cepat bertindak, tidak boleh pembiaran berlarut-larut. Siapapun yang melanggar tatatan secara kriminal harus ditindak tegas secara hukum.
Saatnya Muhammadiyah dan NU bergandeng tangan untuk menyelamatkan masa depan bangsa dari rongrongan atas tatanan dan norma dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Untuk membahas lebih jauh mengenai paham radikalisme agama, intoleransi dan ekstremisme, Trias Kredensial mengundang Dr Zuly Qodir, SAg, MAg, seorang sosiolog dari Universitas Gajahmada yang sekarang menjadi dosen pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Berikut ini petikan wawancara Trias Kuncahyono dengan Zuly Qodir secara virtual:
Mengapa di negeri yang plural dan mengusung Pancasila sebagai ideologinya serta Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyannya, tren radikalisme, fundamentalisme dan intoleransi cenderung meningkat?
Pertama, jangan-jangan ini disebabkan karena kita ini negara yang sangat terbuka. Negara yang sangat ramah dengan hal baru atau hal yang dianggap baru.
Karena itu ketika muncul istilah radikalisme, fundamentalisme dan ekstremisme orang kepengin tahu, ini barang apa. Orang kepengin mengerti. Sayangnya, mengertinya itu di jalan yang salah. Ini harus diselesaikan secara sungguh-sungguh.
Misalnya, kenapa sih masjid-masjid selalu ramai, gereja ramai, pura ramai tapi korupsi nomor satu di Asia Tenggara. Kalau begitu, jangan-jangan ada yang salah dengan orang beragama.
Fundamentalisme dan radikalisme sayangnya dimaknai sebagai hal yang negatif. Yaitu tidak menghargai adanya keragaman. Darimana gagasan itu muncul?
Pertama, orang yang berbeda itu tidak perlu dihargai, tidak perlu ditoleransi. Kedua, ingin mengembalikan hal-hal yang asli.
Ketiga, adanya kecurigaan kepada orang yang berbeda. Ini menyebabkan ketakutan-ketakutan yang luar biasa, yang akhirnya menyebabkan pobia. Pobia dengan orang yang berpaham, berkeyakinan, berideologi politik yang berbeda. Jadi, harus sama.
Sehingga muncul (paham) radikalisme, intoleransi karena ada orang yang mengalami ketakuran yang luar biasa.
Lalu, mengapa ada yang berpendidikan tinggi kok bisa terpengaruh radikalisme?
Pertama, dari soal bacaan. Kedua, latar belakang pengalaman masa lalu hidup susah. Ketiga, pergaulan yang salah. Kata Buya Syafii Ma'arif, pergaulan seratus meter.
Karena takut kehilangan yang asali. Takut kehilangan pengikut dan pengaruh. Otoritas seakan-akan tidak ada kalau dia tidak membangun kebenaran mutlak.
Padahal kebenaran mutlak itu tidak ada. Semua yang ada di kita itu adalah menafsirkan fenomena. Menafsirkan teks.
Ikuti wawancara selengkapnya Trias Kuncahyono dengan Dr Zuly Qodir di video di atas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/zuly-qodir.jpg)