Lifestyle
4 Cara Mencegah dan Memutus Siklus Toxic Parenting
Sebagai manusia biasa, orangtua pasti memiliki kesalahan dalam pola asuh ke anak-anaknya. Bahkan tanpa disadari kesalahan itu bisa melukai anaknya
Dengan ekspektasi yang disesuaikan dengan kondisi, maka seorang ibu akan lebih mudah untuk mengelola pikirannya, yang dapat menjadi sumber stresnya.
4. Bangun komunikasi efektif dengan pasangan
Berdasarkan survei, 68 persen responden mengakui bahwa kesibukan masing-masing sering menjadi pemicu konflik pasangan saat mengasuh si Kecil. Para ibu menyadari bahwa kurangnya istirahat dan bantuan suami untuk mengurus tugas rumah tangga menjadi dua faktor yang memengaruhi suasana hati ketika mengasuh anak.
Dari sini, semua responden setuju bahwa suami berperan penting dalam kewarasan istri.
Ingat, komunikasi akan efektif jika kedua pihak mendinginkan pikiran terlebih dahulu dan menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.
"Yang penting dipahami, perilaku beracun orangtua bukanlah kesalahan atau tanggung jawab anak. Jika lingkaran toxic parenting datang dari pola asuh orangtua di masa kecil, siapa pun masih mungkin untuk mengubah dan memutusnya," kata Tatik.
"Sejarah toxic parenting dapat memberikan dua pengaruh. Yang pertama adalah mengulangi apa yang telah dialami, yang kedua adalah menjadi pendorong untuk melawan dan melakukan pola asuh dengan cara yang sama sekali berbeda. Jadi, amat penting untuk berkomitmen memutus siklus toxic parenting tersebut," paparnya.