Lifestyle
4 Cara Mencegah dan Memutus Siklus Toxic Parenting
Sebagai manusia biasa, orangtua pasti memiliki kesalahan dalam pola asuh ke anak-anaknya. Bahkan tanpa disadari kesalahan itu bisa melukai anaknya
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sebagai manusia biasa, orangtua pasti memiliki kesalahan dalam pola asuh ke anak-anaknya.
Bahkan tanpa disadari kesalahan itu bisa melukai anak-anaknya dan bersifat destruktif atau merusak.
Namun, menyadari kesalahan dan minta maaf ke anak adalah salah satu cara agar kerusakan itu tidak membawa dampak besar bagi tumbuh kembang anak. Selain minta maaf ada cara lain agar tidak menjadi orangtua yang toksik atau pola asuh beracun. Apa saja?
Psikolog Klinis sekaligus Dosen Psikologi Islam IAIN Kediri, Tatik Imadatus Sa’adati, M. Psi mengatakan, ada fakta unik dari toxic parenting yang ditemukan oleh para ahli psikologi.
Baca juga: Sulit Mengatakan Tidak Salah Satu Ciri Anda Sudah Mengalami Pola Asuh yang Toksik Saat Kecil
Baca juga: Apakah Anda Termasuk Toxic Parenting? Kenali Cirinya
Orangtua yang toksik datang dalam berbagai bentuk. Beberapa sangat jelas terlihat, sementara beberapa melakukannya dengan cara yang implisit dan lebih halus. Namun, semuanya sama: bersifat destruktif atau merusak.
“Bahkan toxic parents terkadang bisa penuh kasih, hangat, atau mengasuh. Mereka bersungguh-sungguh mencintai anaknya. Tetapi ingat, cinta melibatkan lebih dari sekadar perasaan yang diungkapkan. Cinta sejati terhadap anak-anak juga merupakan cara berperilaku,” papar Tatik, Rabu (15/9/2021).
Hasil survei Teman Bumil dan Populix pada 212 responden ibu berusia 20-35 tahun menunjukkan bahwa 57 persen responden merasa dirinya adalah orangtua yang tegas, tetapi penyayang. Hal tersebut paling banyak ditunjukkan dengan memberikan pelukan dan ciuman kepada si Kecil.
Baca juga: Peran Ayah dalam Pola Asuh Anak agar Tumbuk Kembang Buah Hati Optimal
Oleh karena itu, Tatik memberikan beberapa langkah yang bisa orangtua lakukan untuk mencegah atau memutus pola asuh beracun, antara lain:
1. Minta maaf kepada anak
Jika orangtua sudah telanjur kehilangan kesabaran dan melakukan kesalahan, misal mengeluarkan kata cacian, mau tidak mau orangtua harus meminta maaf kepada anak.
Selanjutnya, bicarakan dengan bahasa yang dipahami anak.
Ingatkan anak bahwa ibunya sangat mencintainya dan jelaskan kepadanya mengapa ibunya kehilangan kesabaran. Penting untuk menjelaskan bahwa situasi itu terjadi bukan karena si Kecil anak yang nakal.
Ketika memiliki ekspektasi yang tinggi dan hal yang diinginkan tidak bisa terwujud, seseorang akan cepat lelah, lalu menjadi toxic parent. Meluangkan waktu untuk me-time adalah salah satu cara agar seorang ibu mampu menurunkan ekspektasinya. Ketika me-time, ia menerima bahwa kondisinya bisa lelah dan butuh waktu untuk memulihkan dirinya sendiri.
3. Mengelola stres
Dengan ekspektasi yang disesuaikan dengan kondisi, maka seorang ibu akan lebih mudah untuk mengelola pikirannya, yang dapat menjadi sumber stresnya.
4. Bangun komunikasi efektif dengan pasangan
Berdasarkan survei, 68 persen responden mengakui bahwa kesibukan masing-masing sering menjadi pemicu konflik pasangan saat mengasuh si Kecil. Para ibu menyadari bahwa kurangnya istirahat dan bantuan suami untuk mengurus tugas rumah tangga menjadi dua faktor yang memengaruhi suasana hati ketika mengasuh anak.
Dari sini, semua responden setuju bahwa suami berperan penting dalam kewarasan istri.
Ingat, komunikasi akan efektif jika kedua pihak mendinginkan pikiran terlebih dahulu dan menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.
"Yang penting dipahami, perilaku beracun orangtua bukanlah kesalahan atau tanggung jawab anak. Jika lingkaran toxic parenting datang dari pola asuh orangtua di masa kecil, siapa pun masih mungkin untuk mengubah dan memutusnya," kata Tatik.
"Sejarah toxic parenting dapat memberikan dua pengaruh. Yang pertama adalah mengulangi apa yang telah dialami, yang kedua adalah menjadi pendorong untuk melawan dan melakukan pola asuh dengan cara yang sama sekali berbeda. Jadi, amat penting untuk berkomitmen memutus siklus toxic parenting tersebut," paparnya.