Breaking News:

Lifestyle

Apakah Anda Termasuk Toxic Parenting? Kenali Cirinya

Orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Melakukan dan memberikan pengasuhan yang bahagia dan sehat untuk buah hatinya.

Penulis: | Editor: Lilis Setyaningsih
Kim Komando
Orangtua dan anak. Orangtua tidak segan-segan memberikan pujian dan perasaan bangga terhadap anak. Orangtua yang kerap memberikan pujian akan melatih anak percaya diri dan mandiri. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. 

Melakukan dan memberikan pengasuhan yang bahagia dan sehat untuk buah hatinya.

Namun, baik disadari atau tidak, proses tersebut bisa berpotensi melukai hati anak-anak. Membicarakan keburukan anak, memberikan 'label', bahkan kekerasan fisik seperti mencubit.

Orangtua berkilah, hal itu dilakukan karena ingin memberikan yang terbaik buat anak-anak di masa depannya.

Baca juga: Peran Ayah dalam Pola Asuh Anak agar Tumbuk Kembang Buah Hati Optimal

Baca juga: Ini Cara Cegah Stunting Sejak Dini: Gizi, Pola Asuh dan Berasuransi

Beririsan dengan tujuan mulia tersebut, terjadi sistem pola asuh yang justru dapat mengganggu mental anak hingga disebut sebagai toxic parenting.

Berdasarkan survei Teman Bumil dan Populix pada 212 responden ibu berusia 20-35 tahun, 83 persen di antaranya mengetahui apa itu toxic parenting. Kendati demikian, apakah itu berarti mencegah terjadinya toxic parenting? Berikut hasilnya seperti dikutip, Rabu (15/9/2021).

Apakah Saya Orang Tua yang Toksik? 

Toxic parenting datang dari perilaku yang dilakukan oleh toxic parents. Istilah orangtua yang toksik atau toxic parents tidak hanya berlaku untuk orangtua yang berperilaku buruk, seperti melakukan kekerasan fisik atau verbal.

Menjadi orangtua yang bisa meracuni kondisi psikologis anak terhitung sebagai kekerasan psikis, dan termasuk pula ke dalam kategori orangtua yang toksik.

Baca juga: Remaja 15 Tahun Cekik Ibunya Hingga Tewas Diduga karena Stres, Efek Pola Asuh Keluarga Tunggal?

Baca juga: Buku KIA Bisa Bungkam Mulut Nyinyir Soal Tumbuh kembang Anak

Definisi tersebut diutarakan oleh Psikolog Klinis sekaligus Dosen Psikologi Islam IAIN Kediri, Tatik Imadatus Sa’adati, M. Psi., Psikolog.

Pemahaman tentang toxic parenting juga tecermin dari hasil survei. Hampir semua responden, yakni sekitar 90 persen ibu, tahu tentang toxic parenting. Mereka mengatakan perilaku egoisme orangtua serta kekerasan verbal dan fisik merupakan contoh dari toxic parenting. 

Ada beberapa ciri khas yang biasa ditemukan pada pola asuh yang toksik, seperti:

- Membicarakan keburukan anak, terutama di depan anak.
- Egois, dengan selalu mengukur segala hal berdasarkan perasaan orang tua. 
- Bertindak kasar kepada anak. Melakukan kekerasan fisik, seperti memukul, mencubit, dan lain-lain, menjadi kriteria yang paling mudah terhitung sebagai toxic parenting. 
- Menagih balas budi.
- Mengejek, baik fisik maupun sifat anak.

Apakah anda pernah melakukan hal tersebut? 

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved