Breaking News:

Lifestyle

Sulit Mengatakan Tidak Salah Satu Ciri Anda Sudah Mengalami Pola Asuh yang Toksik Saat Kecil

Anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orangtua akan diikuti anaknya. Baik hal yang baik maupun yang buruk.

Editor: Lilis Setyaningsih
The Express Tribune
Ilustrasi seorang perempuan atau ibu sedang mengajarkan anak-anak di rumah. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orangtua akan diikuti anaknya. Baik hal yang baik maupun yang buruk. Termasuk ketika orangtua melakukan toxic parenting. 

Psikolog Klinis sekaligus Dosen Psikologi Islam IAIN Kediri, Tatik Imadatus Sa’adati, M. Psi. mengatakan, seringkali  muncul pertanyaan kenapa seseorang bisa menjadi orangtua toksik untuk anak-anaknya? 

Dalam ilmu neuropsikologi, satu faktor yang paling berpengaruh adalah bagaimana pola asuh orangtua kita sebelumnya.

“Seseorang yang dibesarkan oleh orangtua yang toksik, kebanyakan akan menjadi orangtua yang toksik pula untuk anaknya," ujar Tatik, Rabu (15/9/2021).

Baca juga: Apakah Anda Termasuk Toxic Parenting? Kenali Cirinya

Baca juga: Kolaborasi Guru, Orangtua dan Anak Sangat Penting dalam PJJ

Pasalnya, tubuh menyimpan luka emosional dan fisik. Semua hal dan informasi yang dirasakan dan dialami saat kecil melalui panca indra, akan terekam di dalam sel-sel otak dan tubuh.

Di saat terjadi sesuatu terhadap kita, maka akan dikelola oleh persepsi di otak dan disimpan di dalam memori sel dan otak.

Trauma dan kesedihan masa lalu itu lalu dapat tinggal di dalam diri kita untuk waktu yang lama dan ketika ada trigger tertentu, dapat kembali timbul ke permukaan.

Akhirnya, akan cenderung mengulangi pola perasaan yang sudah dikenal, tidak peduli seberapa menyakitkan dan merugikannya itu untuk diri sendiri.

Baca juga: Pola Pengasuhan Drone Parenting dan Peran Ayah dalam Pengasuhan Generasi Alfa

Baca juga: Orami Luncurkan Aplikasi Orami Parenting Berbasis Komunitas

Dengan kata lain, anak-anak dari orangtua yang toksik mencoba untuk menghidupkan kembali pengalaman lama mereka yang menyakitkan dalam hubungan dewasa lainnya. Tertinggal “goresan” abadi pola asuh yang salah dan pengaruhnya akan bertahan lama terhadap perilaku.

Dari sini sudah terlihat, bahwa kerusakan ganda akan terjadi. Tumbuh dalam keluarga yang disfungsional dapat menyebabkan masa dewasa yang sama disfungsionalnya. 

Efek lain dari pola asuh yang toksik antara lain:

- Mengalami kesulitan untuk mengatakan tidak karena terbiasa merasakan batasan tidak dihormati.
- Menjadi lebih rentan untuk mengembangkan gangguan kecemasan.
- Bekerja keras untuk menyenangkan orang lain agar diterima.
- Mengalami kesulitan untuk menjadi diri sendiri.
- Memiliki toleransi yang tinggi terhadap perlakuan buruk dari orang lain.
- Memiliki perasaan bersalah dan malu yang melumpuhkan. Hal ini sebagian besar karena perilaku toksik orangtua yang berulang membuat si Kecil terbebani dan harus bertanggung jawab atas perasaan oran tuanya.
- Memiliki harga diri yang rendah.
- Anak-anak dari oran tua yang kasar juga cenderung menjadi pelaku kekerasan bagi diri mereka sendiri dan akan menjadi pelaku kekerasan terhadap orang lain.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved