Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu Dijual Sampai Rp 500.000, Pembelinya Pun Ditangkap Polisi

Selain pembuat dan penjual sertifikat vaksin Covid-19 palsu, dua pembelinya juga ditangkap polisi.

Penulis: Desy Selviany | Editor: Max Agung Pribadi
Warta Kota/Desy Selviany
Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran (kiri) menjelaskan pengungkapan sindikat pemalsu sertifikat vaksin Covid-19 di Mapolda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Pusat, Jumat (3/9/2021). Penjual dan pembeli sertifikat palsu tersebut ditangkap polisi. 

Sebelumnya diberitakan aplikasi pedulilindungi kecolongan. Seorang petugas tata usaha kelurahan di Muara Karang menjual belikan sertifikat vaksin lewat media sosial.

Ditkrimum Polda Metro Jaya mengungkap dua tersangka yang terlibat dalam jual beli vaksin di media sosial Facebook.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran mengatakan bahwa pihaknya menangkap dua orang pria inisial FH (23) dan HH (30).

Tersangka inisial FH merupakan pelaku yang menawarkan sertifikat vaksin palsu di Facebook.

Sementara HH ialah pelaku yang membuat sertifikat vaksin palsu lewat jabatannya sebagai pegawai tata usaha Kelurahan Muara Karang.

"Modus operandinya ialah pelaku HH memiliki akses ke data kependudukan. Pelaku memiliki akses ke T-care, lalu kemudian bekerjasama dengan rekannya FH untuk menjualnya kepada publik," ungkap Fadil di Mapolda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Pusat, Jumat (3/9/2021).

Fadil menjelaskan, bahwa pelaku HH mempunyai akses data ke NIK warga. Ia juga bisa mengakses T-care karena pelaku merupakan pegawai pada Kelurahan di Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara.

"Dia paham betul bahwa untuk bisa mendapatkan sertifikat vaksin dan bisa dipergunakan dalam pedulilindungi disyaratkan dua hal tersebut," jelas Fadil.

Kata Fadil, setelah dapatkan akses NIK warga, HH kemudian membuat sertifikat vaksin dengan memanfaatkan password dan username T-care yang diketahuinya karena ia menjabatan sebagai petugas tata usaha kelurahan.

Para pelaku memanfaatkan situasi masyarakat yang ingin mendapatkan sertifikat vaksin tanpa harus divaksin.

Sehingga sertifikat palsu itu dapat dipergunakan untuk melakukan perjalanan maupun kunjungan ke tempat-tempat yang diwajibkan menggunakan platform pedulilindungi.

Misalnya saja ke Mal atau Bandara dan Stasiun Kereta Api.

Atas perbuatannya baik FH dan HH dikenakan pasal berlapis.

Keduanya dikenakan Pasal 30 undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

Kedua tersangka juga dikenakan pasal 32 Undang-undang Nomor 19 tahun 2016 tentang ilegal akses.

Dimana keduanya diancam pidana penjara enam tahun dan denda Rp600 juta. (Des)

Caption: Polda Metro Jaya merilis jual beli sertifikat vaksin palsu di Semanggi, Jakarta Pusat, Jumat (3/9/2021) (Desy Selviany)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved