Eksklusif Warta Kota
Mengenal Sisi Lain Greysia Polii dan Perjuangan Bersama Sang Mama demi Bulutangkis
Inilah sisi lain kehidupan pebulutangkis Greysia Polii yang baru saja mendapatkan medali emas di Olimpiade Tokyo 2020
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Karier pebulu tangkis Indonesia Greysia Polii sebelum kian populer usai merebut medali emas Olimpiade 2020 bersama pasangannya di sektor ganda putri Apriyani Rahayu, sungguh tak mudah..
Saat usianya 5 tahun, ayahnya meninggal dunia.
Namun pada saat bersamaan Greysia mengenal bulu tangkis di kampung halamannya, Tomohon, Sulawesi Utara.
Tapi lantaran keterbatasan ekonomi, Greysia kecil--anak bungsu dari tiga bersaudara--terpaksa pakai kardus yang dibentuk menyerupai raket untuk bermain bulu tangkis.
"Jadi waktu kecil dia itu pakai kardus dipotong lalu dibentuk jadi raket untuk belajar pukul-pukul," ujar kakak kandung Greysia, Ade Polii saat berbincang dengan jurnalis Tribunnetwork Lusius Genik melalui sambungan telepon, Selasa (3/8).
Baca juga: Punya Target di Piala Sudirman dan Piala Uber, Greysia Polii Lanjutkan Perjuangan untuk Merah Putih
Ade juga mengungkapkan berbagai situasi sulit yang dihadapi adiknya sebelum menjadi pemain profesional. Ada momen di mana ibunda Greysia harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi kebutuhan serta perlengkapan bulu tangkis sang putri tercinta.
Selain itu Ade mengungkapkan Greysia adalah sosok periang yang tidak pernah mengeluh.
Di kondisi yang berat, Greysia cenderung tabah menerima dan terus berusaha untuk tidak kalah pada keadaan.
Greysia, menurut Ade, telah membahas kemungkinan untuk pensiun dari panggung bulu tangkis usia merebut medali emas Olimpiade 2020. Berikut petikan wawancaranya:
Bisa dijelaskan silsilah keluarga Greysia Polii?
Saya kakaknya Greysia Polii, kami tiga bersaudara, ada satu laki-laki. Kakak nomor satu laki-laki (Ricky Polii), nomor dua saya, nomor tiga Greysia.
Kebetulan kakak yang nomor satu sudah meninggal kemarin bulan Desember 2020.
Kami sebenarnya orang Tomohon cuma memang lama di Jakarta.
Kami kelahiran Jakarta, tapi orangtua kami dari Tomohon.
Kemudian Greysia mengenal badminton itu dari umur 5 tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/mengenal-sisi-lain-greysia-polii.jpg)