Kesehatan
Risiko Pasien Penyakit Ginjal Kronik Berpotensi Tinggi Terkena Hepatitis
Kegiatan cuci darah pada pasien gagal ginjal kronik rentan terkena penyakit, salah satunya hepatitis.
Penulis: LilisSetyaningsih |
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pasien penyakit gagal ginjal kronik (PGK) ketika kerja ginjal tidak berfungsi normal, cuci darah atau hemodialisis harus rutin dilakukan.
Namun, kegiatan cuci darah pada pasien gagal ginjal ini rentan terkena penyakit, salah satunya hepatitis.
Dr Aida Lydia PhD SpPD-KGH FINASIM, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia mengatakan, Hepatitis C menginfeksi 130-150 juta orang di dunia dengan estimasi prevalensi 3 persen.
Hal itu menyebabkan 300.000 orang meninggal akibat HCV (hepatitis C virus) per tahun.
Sedangkan menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2014) di Indonesia estimasi prevalensi terjadi 0,8-1 persen.
Pada pasien PGK terutama yang menjalani hemodialisis (HD) prevalensi hepatitis lebih tinggi.
Kelompok tertinggi terkena hepatitis di antaranya pasien hemodialisis yang secara umum usia harapan hidup pasien dialisis yang terkena hepatitis akan semakin singkat.
Belum lagi jika terkena penyakit hati kronik (sirosis hati atau kanker hati).
Baca juga: Gagal Ginjal Lebih Rentan Meninggal Ketimbang Penderita Diabetes Terkontrol Akibat Covid-19
Baca juga: Diskusi Auto 2000: Ini Alasan Pasien Gagal Ginjal Rentan Meninggal Dunia Akibat Covid-19
Transmisi hepatitis C pada hemodialisis tinggi karena tindakan hemodialisis membuat paparan dengan darah tinggi.
"Saat ini sudah jauh berkurang PMI sudah melakukan skrining hepatitis," kata Aida dalam diskusi publik tentang Hepatitis dan penyakit ginjal kronik (PGK), belum lama ini.
Sedangkan Dr dr Irsan Hasan SpPD-KGEH FINASIM, Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia mengatakan, saat ini vaksin hepatitis B sudah tersedia, sedangkan hepatitis C belum ada.
Salah satu kondisi yang harus diperhatikan yakni hepatitis kronik dapat berlanjut menjadi sirosis hati.
Kasus sirosis hati di Indonesia pada umumnya disebabkan hepatitis B dan hepatitis C.
Pada kejadian penyakit ginjal kronik stadium akhir (dalam 8 tahun) studi menunjukkan bahwa pada kelompok yang mendapatkan terapi antiviral lebih rendah dibandingkan kelompok tidak mendapat terapi antiviral.
Untuk pencegahan dilakukan skrining dan surveilans.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/hemodialisis1128.jpg)