Kriminalitas

Tidak Kunjung Jera, Hotel G2 Kembali Tawarkan Belasan Terapis Siap Dibooking di Tengah Masa PPKM

Diduga Kembali Langgar PPKM, Hotel G2 Tawarkan Belasan Terapis Siap Dibooking. Berikut Selengkapnya

Penulis: Dwi Rizki | Editor: Dwi Rizki
Istimewa
Polres Metro Jakarta Selatan tengah mendata belasan terapis di Hotel G2, Jalan Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Senin (5/7/2021). 

"Gimana bang?," tanya pria itu kepada empat orang pengunjung Hotel G2.

"Aku telah ternodai. Thank you bang," ujar salah satu pria sembari tertawa.

Suasana sore hari di Hotel G2 terlihat semakin ramai. 

Belasan pengunjung terlihat berlalu lalang keluar masuk Hotel G2

Begitu juga sang pria yang diduga merupakan mucikari para terapis tersebut. 

Pria itu sibuk menawarkan terapis yang berada di Hotel G2 kepada para pengunjung yang datang.

Pengelola dan Belasan Terapis Diciduk

Kondisi tersebut berbanding terbalik ketika Polres Metro Jakarta Selatan menggerebek Hotel G2 pada tiga pekan lalu, tepatnya Senin (5/7/2021) malam.

Hotel yang manawarkan layanan pijat itu kedapatan melanggar aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

"Dari hasil kegiatan kita, ditemukan satu kegiatan yang kami duga melanggar aturan pemerintah yang tertuang dalam instruksi Mendagri Nomor 15 tahun 2021, termasuk Keputusan Gubernur Nomor 875 tahun 2021," kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Azis Andriansyah pada Senin (5/7/2021).

Azis mengungkapkan, pihaknya mengamankan pemilik hotel dan belasan terapis dalam penggerebekan tersebut.

"Kegiatan tersebut adalah kegiatan spa dan pijat yang dilaksanakan di Hotel G2," ujar dia.

"Setelah kita melakukan penyelidikan dan pemeriksaan, didapatkan 15 terapis pijat dan dikelola oleh satu orang pengelola dengan inisial AC," tambahnya.

Para pelaku tersebut dijerat Pasal 93 Jo Pasal 9 ayat 1 Undang-Undang (UU) RI Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

"Kemudian kita kenakan juga Pasal 14 UU RI Nomor 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular, dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara atau denda maksimal Rp 100 juta," tutupnya. 

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved