Covid19 Melonjak
Ngeri, Dinas Kesehatan DKI Prediksi Kasus Aktif Covid-19 Bisa Tembus 218.000 pada Agustus
Dinas Kesehatan DKI Jakarta memprediksi, kasus aktif Covid-19 di Ibu Kota bisa menembus 218.000 orang pada akhir Agustus 2021.
Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Valentino Verry
Berdasarkan paparan yang disampaikan Widyastuti, pemerintah menyediakan tempat tidur isolasi hingga 19 Juni mencapai 8.924 unit.
Dari jumlah itu, sebanyak 7.919 terpakai atau sudah terisi 89 persen (tersisa 11 persen).
Baca juga: Arief R Wismansyah Siapkan Gedung Sekolah Sebagai Tempat Penampungan Pasien Covid-19
Sementara jumlah tempat tidur ICU yang disediakan mencapai 1.189 unit. Dari jumlah itu, sebanyak 963 unit terpakai atau sudah terisi 81 persen (tersisa 19 persen).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia mengatakan, pihaknya melakukan pengetesan PCR sebanyak 19.572 spesimen.
“Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 16.636 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 5.582 positif dan 11.054 negatif,” kata Dwi.
Kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tengah diuji akibat ledakan Covid-19. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI itu kemudian melibatkan ahli epidemiologi, Forkopimda hingga Satgas Penanganan Covid-19 Pusat untuk mengeluarkan kebijakan baru.
Sejak sepekan terakhir, Anies telah mengeluarkan dua kebijakan yang cukup tegas di Ibu Kota untuk meredam penyebaran Covid-19.
Pertama, Anies mewajibkan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) hingga 75 persen bagi perkantoran atau tempat kerja yang berada di zona merah, dan kedua Anies menghentikan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di 263 sekolah di Jakarta.
Ketua, Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI Jakarta Idris Ahmad mengatakan, Anies harus bergerak cepat membenahi upaya 3T (tracing, testing dan treatment) yang mulai longgar penerapannya.
Terlebih, kata dia, saat ini Jakarta sedang menghadapi virus varian delta yang memiliki daya infeksi dua kali lebih kuat dibandingkan varian sebelumnya.
“Di kondisi genting seperti ini kepemimpinan Gubernur Anies diuji, apabila tidak dilakukan tindakan segeram, maka fasilitas kesehatan akan kesulitan menghadapi peningkatan pasien yang semakin tak terkendali,” ujar Idris.
Menurutnya, ada tiga faktor yang memperburuk kondisi lonjakan Covid-19 di Jakarta. Pertama, karena lemahnya penerapan tracing kasus Covid-19.
Baca juga: Sembuh dari Covid-19, Pilar Saga Ichsan Cerita Soal Penyebab Hingga Hilang Penciuman, Demam, Batuk
Saat ini Pemprov DKI tidak memiliki jumlah tenaga tracer yang cukup untuk melakukan pelacakan kasus, yaitu hanya sekitar 2-3 orang di setiap puskesmas.
Padahal dibutuhkan paling tidak lima orang petugas tracer di setiap puskesmas kelurahan.
“Harus segera melakukan rekrutmen tenaga medis secara terbuka baik dari dalam maupun luar daerah untuk membantu fasilitas kesehatan di DKI Jakarta,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kepala-dinas-kesehatan-dki-jakarta-widyastuti-di-balai-kota.jpg)