Lifestyle
Ajarkan Anak Belajar menerima kegagalan dan Kenali Titik Kekuatan Diri
Tidak diterima di sekolah atau perguruan tinggi impian bukan berarti kegagalan. Ajarkan anak mengenal kekuatan dirinya sendiri.
Penulis: LilisSetyaningsih |
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Setiap Juni menjadi bulan penuh deg-degan bagi orangtua dan anak yang menjalani proses perpindahan tahapan sekolah lebih tinggi.
Sekolah atau universitas negeri masih menjadi pilihan banyak orang.
Sistem seleksi ketat dan biaya pendidikan relatif lebih murah membuat orang yang diterima di sekolah atau universitas negeri dianggap lebih prestise dan prestasi.
Namun tentunya tidak semua anak bisa diterima di sekolah atau universitas yang diinginkan.
Penerimaan peserta didik baru (PPDB) online masih belum seluruhnya selesai. Begitu juga tahapan mahasiswa.
Pengumuman Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang berlangsung Senin (14/6/2021), ditanggapi berbagai perasaan.
Mereka yang diterima di jurusan dan universitas pilihan tentu senang dan bahagia.
Tetapi jika diterima di jurusan yang tidak terlalu diinginkan bisa ditanggapi ‘dingin’.
Sedangkan jika tidak diterima di sekolah atau kampus yang diinginkan jadi merasa gagal.
Ada juga yang menanggapinya biasa-biasa saja walaupun tidak diterima di sekolah impiannya.
Baca juga: Ini Cara Cegah Stunting Sejak Dini: Gizi, Pola Asuh dan Berasuransi
Selain SBMPTN, masih ada lagi penerimaan jalur mandiri di setiap perguruan tinggi negeri (PTN) sehingga masih bisa memburu sekolah favorit.
Namun seringkali ‘hati sudah terpotek (patah)’ pada tahap awal.
Seperti Anto, yang merasa ‘lelah hati’ ketika seminggu penuh berburu jalur prestasi di tingkat SMA.
Ternyata hasilnya kurang memuaskan.
Anaknya, Angela (15) menangis histeris ketika harus menerima kenyataan diterima di SMA negeri yang jauh dari rumahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/ryu-hye-young2233.jpg)