Sabtu, 18 April 2026

Kesehatan

Kapan Anak Perlu Suplemen Zat Besi? Ini Penjelasan Dokter

Kekurangan zat besi pada masa ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat menurunkan kecerdasan anak.

Warta Kota/Mochamad Dipa Anggara
Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi, dr.Lucky Yogasatria Sp.A (tengah) dan Senior General Manager Marketing PT Combiphar, Debi Widianti (kanan) memberikan penjelasan terkait pentingnya konsumsi zat besi dalam acara peluncuran kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas di Jakarta, Selasa (14/4/2026). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kecukupan zat besi merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Nutrisi ini berperan besar dalam pembentukan sel darah merah dan mendukung fungsi kognitif seperti konsentrasi serta daya ingat. 

Kekurangan zat besi dapat berdampak pada menurunnya kemampuan belajar, produktivitas, hingga tumbuh kembang anak.

Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi, dr.Lucky Yogasatria Sp.A, menjelaskan bahwa kebutuhan zat besi perlu diperhatikan sejak dini, mulai dari bayi hingga usia dewasa, terutama pada periode pertumbuhan, masa remaja, sebelum kehamilan, hingga selama kehamilan.

"Pada masa kehamilan, kecukupan zat besi sangat penting untuk mendukung kesehatan ibu, pertumbuhan janin, serta membantu menurunkan risiko bayi lahir dengan cadangan zat besi yang rendah, sehingga dapat menekan potensi kekurangan zat besi pada bayi sejak awal kehidupan," ungkap dr.Lucky Yogasatria Sp.A dalam acara peluncuran kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Lebih lanjut dikatakan, kecukupan zat besi juga sangat penting diperhatkan terutama pada masa awal kehidupan, khususnya dalam periode 1.000 hari pertama (sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun).

Karena pada periode tersebut, perkembangan otak anak berlangsung sangat cepat. Bahkan, sekitar 80 persen perkembangan otak terjadi pada masa ini.

Menurut dr. Lucky, zat besi berperan penting dalam proses tersebut, termasuk dalam pembentukan sel saraf dan neurotransmitter yang memengaruhi kemampuan berpikir, konsentrasi, dan daya ingat.

Kekurangan zat besi pada masa ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat menurunkan kecerdasan anak.

“Jika anak kekurangan zat besi, dampaknya bukan hanya anemia. Perkembangan otaknya juga bisa terganggu, bahkan penurunan IQ bisa terjadi,” jelasnya.

Tanda awal kekurangan zat besi yang perlu di waspadai

Dr. Lucky menjelaskan, bahwa kekurangan zat besi tidak selalu langsung terlihat jelas. Banyak orang tua baru menyadari saat anak sudah tampak pucat, padahal kondisi tersebut merupakan tahap akhir.

Beberapa tanda awal yang perlu diwaspadai antara lain anak terlihat lemas atau kurang aktif, nafsu makan menurun, sulit fokus atau lambat merespons, keterlambatan bicara atau berjalan serta gejala-gejala ini sering dianggap hal biasa, padahal bisa menjadi indikasi awal kekurangan zat besi.

"Gejala-gejala ini sering dianggap hal biasa, padahal bisa menjadi indikasi awal kekurangan zat besi," ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa pada bayi usia 0-4 bulan, kebutuhan zat besi masih bisa tercukupi dari ASI. Tapi setelah masuk usia 4-6 bulan, bayi sudah bisa mulai diberikan suplemen zat besi sesuai rekomendasi dokter.

Pasalnya, setelah usia 4 bulan, kebutuhan zat besi bayi meningkat dan tidak lagi sepenuhnya terpenuhi dari ASI.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved