Penyuap Edhy Prabowo: Saya 12 Kali Ekspor Benur Cuma Untung Rp 40 Juta, yang Lainnya Rugi

Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito mengaku bisnis ekspor benih lobster (benur) tak menguntungkan.

Editor: Yaspen Martinus
Tribunnews.com
Tim penyidik KPK menyita uang tunai sebanyak Rp 52,3 miliar terkait kasus dugaan suap perizinan ekspor benih bening lobster atau benur yang menjerat eks Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin (15/3/2021). 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito mengaku bisnis ekspor benih lobster (benur) tak menguntungkan.

Sebab, kata penyuap mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo itu, banyak risiko bisnis yang membuat nilai benur berkurang.

Pernyataan ini disampaikan Suharjito saat bersaksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap izin ekspor benur untuk terdakwa Edhy Prabowo, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Baca juga: KPK Umumkan 75 Pegawainya Tak Memenuhi Syarat Jadi ASN, 2 Orang Tidak Ikut Tes

Suharjito mulanya menjelaskan harga ekspor benur yang dipatok KKP dinilai terlalu tinggi.

Kata dia, biaya ekspor benur yang seharusnya hanya Rp 300 per ekor, melonjak jadi Rp 1.800 per ekor, lantaran ada hitung-hitungan pembayaran ke PT ACK selaku perusahaan kargo.

"Jadi sebelumnya itu kita sudah hitung, sampai plastiknya kita hitung."

Baca juga: Propam Segera Gelar Sidang Etik untuk Brigjen Prasetijo Setelah Divonis 3 Tahun Penjara

"Kita kan memang bisnis, sudah kita menghitung itu kemahalan," ungkap Suharjito.

Ia mengaku tak punya pilihan untuk mundur, sehingga terus melanjutkan bisnis ekspor benur tersebut.

Sebab, komitmen sudah terbentuk antara PT ACK dengan pihak KKP, sehingga harga ditentukan Rp 1.800 per ekor.

Baca juga: Epidemiolog UI Bilang MER-C Tak Berhak Melakukan Tes Swab kepada Rizieq Shihab

"Karena itu tidak ada suatu pilihan."

"Karena waktu saya bergabung sama Pak Chandra Astan (Direktur PT Grahafoods Indo Pasifik) di kantor saya, itu memberi tahu selaku ketua asosiasi Perduli (Persatuan Dunia Lobster Indonesia), yang pasti terima keluhan dari anggota."

"Nah, itu saya bertemu lalu Candra cerita untuk ACK itu sudah komitmen dengan pihak KKP sehingga harganya Rp 1.800," tuturnya.

Baca juga: UPDATE Vaksinasi Covid-19 RI 5 Mei 2021: Dosis Pertama 12.832.886, Suntikan Kedua 8.151.942 Orang

Suharjito mengatakan, keuntungan tak bisa didapat lantaran pihak pembeli sudah tahu kuota ekspor benur setiap perusahaan.

Sehingga, harganya sudah diperkirakan sedari awal.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved