Jumat, 12 Juni 2026

Aksi Terorisme

Yenny Wahid: Radikalisme Bukan Soal Ajaran Agama, tapi Kesehatan Mental

Menurutnya, ketika seseorang merasakan kegelisahan, menjadi mudah untuk dimasuki doktrinisasi yang seolah-olah menawarkan jawaban atas kegelisahannya.

Tayang:
TRIBUNNEWS/LARASATI DYAH UTAMI
Direktur Wahid Foundation Zannuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid, bersama Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Dubes Esam Abid Al Thagafi, dan Wakil Ketua Umum Kadin Arsjad Rasjid, dalam peluncuran buku berjudul 'Duta Antara Dua Kutub' di Jakarta, Kamis (8/4/2021). 

“Bahaya jika mereka merasa tidak berarti, karena mereka ingin dianggap, eksis."

"Kemudian dikasih muatan agama supaya mereka eksis, tapi eksisnya keliru."

"Ini PR besar kita bagaimana menumbuhkan resiliensi terhadap anak muda agar bisa lebih kuat, tidak tertarik dengan narasi itu,” paparnya.

Baca juga: Gadaikan Barang Bukti Emas 1,9 Kilogram Buat Bayar Utang, Pegawai KPK Dipecat

Peran orang tua, institusi pendidikan dan masyarakat sangat penting dalam menangani isu ini, termasuk di dalamnya peran pemuka agama untuk melakukan pendekatan kemanusiaan.

Semuanya harus berkolaborasi dan terlibat untuk mencegah terorisme, karena tidak cukup dengan hanya mengandalkan kerja dari apparat.

“Ini harus kolaborasi dan semuanya terlibat, tidak bisa hanya dikasih ke polisi."

"Persoalannya tidak bisa hanya dilakukan dengan pendekatan keamanan, tapi juga harus dengan pendekatan kemanusiaan,” papar Yenny.

Tiga Indikator Orang Terpapar Radikalisme

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid membeberkan tiga indikator orang-orang yang terjangkit radikalisme terorisme.

Indikator pertama, kata Ahmad, mereka ingin mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi agama menurut versi mereka.

Selain itu, lanjut dia, mereka juga ingin mengganti sistem pemerintahan dengan segala cara.

Baca juga: JADWAL Lengkap dan Link Live Streaming Ibadah Jumat Agung 2 April 2021 di Jakarta dan Sekitarnya

Hal itu, kata Ahmad, karena radikalisme sejatinya merupakan paham yang menginginkan tatanan sosial politik yang sudah mapan, dengan cara-cara ekstrem atau kekerasan.

Indikator kedua, kata dia, mereka takfiri yang berciri intoleran, cenderung anti budaya kearifan lokal, senang melabel kelompok di luar mereka sesat dan kafir.

Hal tersebut ia sampaikan ketika berbincang dengan Tribun Network, Kamis (1/4/2021).

Baca juga: JADWAL Lengkap dan Link Live Streaming Misa Malam Paskah 3 April 2021 di Jakarta dan Sekitarnya

"Kemudian yang ketiga, kecenderungan mereka lemah di bidang akhlak, perilaku, budi pekerti."

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved