Berita Nasional
Zulfikar Achmad Minta Terorisme Tak Dikaitkan dengan Agama: Mereka Tak Punya Iman dan Akal Sehat
Zulfikar Ahmad menekankan bahwa jangan pernah mengkaitkan terorisme dengan agama apapun terlebih lagi agama Islam.
WARTAKOTALIVE.COM, JAMBI-- Anggota MPR RI Drs. H. Zulfikar Achmad mengingatkan tentang bahaya paham radikalisme yang bisa menjurus kepada aksi terorisme.
Ia menyebut, masyarakat harus mampu memisahkan antara tindakan terorisme dan agama.
Sebab, ia menilai, aksi terorisme dilakukan oleh sekelompok orang yang mempunyai misi tertentu.
Hal tersebut Zulfikar sampaikan ketika melakukan sosialisasi 4 pilar kebangsaan dan bernegara di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi Selasa (6/4/2021).
Baca juga: Ternyata Karena Ini Hotma Sitompul Bangun Tembok yang Pisahkan Rumahnya dengan Rumah Desiree Tarigan
Baca juga: Ketua Umum MUI: Aksi Terorisme di Wilayah Damai Bentuk Keputusasaan, Bukan Cari Kesyahidan

Dalam kesempatan sosialiasasi empat pilar kali ini beliau mengenang kembali kejadian terorisme yang pernah terjadi di tanah air.
ZA menekankan bahwa jangan pernah mengkaitkan terorisme dengan agama apapun terlebih lagi agama Islam.
“Tidak ada agama apapun yang membenarkan aksi teroris, hanya orang-orang yang tidak punya iman dan tidak punya akal sehat yang mau menjadi teroris," ujar ZA melalui keterangan tertulis.
Kegiatan empat pilar yang dilaksanakan di aula desa Pematang Rahim ini berjalan dengan antusias besar oleh berbagai kalangan masyarakat dan peserta yang hadir.
Sebanyak 150 peserta mengikuti protokol kesehatan yang telah diatur pemerintah.
Mereka yang hadir saat itu sangat mengutuk aksi teroris yang mencoba meruntuhkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Baca juga: BNPT Paparkan Tiga Indikator Orang yang Terjangkit Paham Radikalisme Terorisme
ZA menambahkan, empat pilar merupakan tiang dalam bernegara dimana harus diperkuat dan dipegang dengan teguh oleh seluruh warga Negara Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
"Dengan modal tersebut maka kita tidak mudah terprovokasi dengan paham radikalisme dan terorisme yang mencoba memecah belah persatuan,” ungkapnya
Dengan adanya sosialisasi empat pilar kebangsaan merupakan salah satu langkah untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga perbedaan baik agama, suku, ras dan status sosial agar tidak adanya kesalahpahaman dalam berkehidupan bersosial.
Baca juga: Terduga Teroris Ini Mengaku Rancang Pelemparan Air Keras kepada Polisi, Juga Isi Ilmu Kebal
Baca juga: MIRIS, Produk China Banjiri Pasar Indonesia, tapi di China Produk Indonesia Tak Laku, Ini Sebabnya
Sehingga akan terbentuk tatanan sosial yang harmoni, aman dan tentram tanpa adanya pertikaian ataupun terbentuknya komunitas – komunitas yang mengundang permusuhan.
ZA juga berharap pelaku-pelaku teroris semakin sadar dan mengakui bahwa apa yang dilakukan adalah perbuatan yang sia-sia dan sangat meresahkan bagi banyak orang.
Ia juga meminta masyarakat Indonesia semakin cerdas memaknai teroris itu adalah bagian dari komunitas yang bukan berbasis pada agama tetapi komunitas brutal yang tidak punya hati nurani.
BNPT beberkan 3 indikator seseorang terjangkit paham radikalisme
Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid membeberkan tiga indikator orang-orang yang terjangkit radikalisme terorisme.
Indikator pertama, kata Ahmad, adalah mereka ingin mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi agama menurut versi mereka.
Selain itu, lanjut dia, mereka juga ingin mengganti sistem pemerintahan dengan segala cara.
Hal itu, kata Ahmad, karena radikalisme sejatinya merupakan paham yang menginginkan penggantian tatanan sosial politik yang sudah mapan dengan cara-cara ekstrem atau kekerasan.
Indikator kedua, kata dia, mereka takfiri yang berciri intoleran, cenderung anti budaya kearifan lokal, senang melabel kelompok di luar mereka sesat dan kafir.
Hal tersebut disampaikan Ahmad Nurwakhid ketika berbincang dengan Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network Domuara D Ambarita di kantor redaksi Tribunnews Jakarta pada Kamis (1/4/2021).
"Kemudian yang ketiga kecenderungan mereka lemah di bidang akhlak, perilaku, budi pekerti. Mereka lebih menonjol pada hal-hal yang sifatnya ritual keagamaan, identitas keagamaan, tampilan luar keagamaan. Jadi ritual formal keagamaan tapi lemah spiritual keagamaan," kata Ahmad.
Baca juga: Soroti Aksi Terduga Teroris, Ustaz Haikal Hassan: Tidak Ada Konsep Bunuh Diri dalam Islam
Untuk itu, kata Ahmad, radikalisme terorisme mengatasnamakan agama adalah cermin dari krisis spiritual dalam beragama.
Ia pun menegaskan aksi terorisme tidak ada kaitannya dengan agama apapun baik kejadian yang terjadi baru-baru ini di Gereja Katedral Makassar maupun di Mabes Polri Jakarta.
Namun demikian, kata Ahmad, aksi teror tersebut terkait dengan pemahaman dan cara beragama umatnya dan biasanya didominasi dengan umat beragama yang menjadi mayoritas di suatu wilayah.
"Jadi sekali lagi kita harus samakan persepsi, kita harus fair dalam hal ini, sekali lagi ini tidak ada kaitannya dengan agama apapun tapi sangat terkait dengan pemahaman, cara beragama, umat beragama dalam konteks ini Islam," kata Ahmad.