Fenomena Fatherless
KPAI Ungkap Fenomena Fatherless, Dampaknya Anak Kurang Percaya Diri
Tak hanya bertugas mencari nafkah, sosok ayah dalam sebuah keluarga juga sangat dibutuhkan dalam hal mengasuh anak.
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Valentino Verry
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Tak hanya bertugas mencari nafkah, sosok ayah dalam sebuah keluarga juga sangat dibutuhkan dalam hal mengasuh anak.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, mengatakan fenomena fatherless atau tidak hadirnya seorang ayah baik secara fisik atau psikologis dalam kehidupan anak di Indonesia cukup besar jumlahnya.
“Di Indonesia, fenomena ini sebenarnya cukup besar jumlahnya, hanya saja tidak terlihat secara kasat mata. Bahkan Indonesia berada di urutan ketiga di dunia sebagai negara tanpa ayah atau sering disebut fatherless country,” ungkap Retno dalam keterangan tertulis, Kamis (1/4).
Lebih lanjut dikatakan Retno, fenomena fatherless ini disebabkan karena tingginya peran ayah yang hilang dalam proses pengasuhan anak.
Reduksi peran gender tradisional yang memosisikan ibu sebagai penanggung jawab urusan domestik dan ayah sebagai penanggung jawab urusan nafkah masih melekat di masyarakat Indonesia.
Baca juga: Ganjar Minta KPAI Tegas Larang Anak-Anak Terlibat Aktivitas Tak Sesuai Umur
Baca juga: KPAI Apresiasi Pemprov DKI dan Jateng Atas Persiapan Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah
“Banyak kisah di masyarakat Indonesia yang menggambarkan fenomena fatherless, seperti sebuah keluarga miskin yang tidak memiliki figur ayah karena ibunya merupakan istri muda, keluarga kaya yang kehilangan figur ayah karena alasan sibuk bekerja dan sering bepergian keluar kota, atau tanpa sadar tidak menjadikan keluarga sebagai prioritas,” ucap Retno.
Kurang percaya diri
Retno menyebutkan, bahwa anak yang mengalami fatherless rata-rata merasa kurang percaya diri, cenderung menarik diri di kehidupan sosial, rentan terlibat penyalahgunaan napza, rentan melakukan tindak kriminal dan kekerasan, kondisi kesehatan mental yang bermasalah, serta munculnya depresi hingga pencapaian nilai akademis yang rendah.
Hal tersebut umumnya terjadi karena anak kehilangan sosok ayah sebagai panutan dan pendamping hidup.
Adanya kekosongan peran ayah dalam pengasuhan anak, terutama dalam periode emas, yakni usia 7- 14 tahun dan 8-15 tahun sangat berpengaruh dalam urusan prestasi sekolah.
Baca juga: KPAI: Sekolah Tatap Muka Mesti Berdasarkan Infrastruktur dan SOP Prokes, Bukan Guru Sudah Vaksin
Baca juga: KPAI Temukan Lima Alasan dan Penyebab Anak Putus Sekolah Selama Pandemi Covid-19
“Dampaknya fatherless bagi anak-anak yang bersekolah antara lain sulit konsentrasi, motivasi belajar yang rendah, dan rentan terkena drop out,” ungkap Retno.
Melihat fenomena fatherless ini, GREDU sebagai salah satu penyedia platform edukasi di Indonesia memandang pentingnya memperkuat peran seorang ayah untuk mencintai anak dan keluarga, mendidik, dan sebagai model yang akan ditiru oleh anak.
Membuktikan rasa sayang dan cinta ke anak
Chief Operating Officer GREDU, Ricky Putra, mengatakan untuk menjadi ayah yang baik, bukan berarti harus menjadi superdad.
Para ayah bisa menjadi idaman untuk anak dan istri dengan membuktikan rasa sayang atau cinta terhadap anak, seperti mengajak anak jalan-jalan, bersepeda, bahkan menemani permainan yang disukai oleh anak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/ayah-anak.jpg)