Bom Gereja Katedral Makassar
Bom Bunuh Diri Pertama di Era Kapolri Listyo, IPW Sebut akan Ada Teror Lain, Ini Cara Antisipasinya
Neta menilai, hal ini dikarenakan masih adanya kelompok-kelompok teror dan kelompok radikal yang belum berhasil diciduk jajaran kepolisian.
Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Mohamad Yusuf
WARTAKOTALIVE.COM, SEMANGGI - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan teror bom di depan Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3/2021) pagi, merupakan kasus teror bom pertama di era Kapolri Jenderal Sigit Listyo.
"Kasus bom bunuh diri ini juga merupakan peringatan buat jajaran kepolisian bahwa akan ada teror-teror susulan lainnya," kata Neta kepada Warta Kota, Minggu (28/3/2021).
Neta menilai, hal ini dikarenakan masih adanya kelompok-kelompok teror dan kelompok radikal yang belum berhasil diciduk jajaran kepolisian.
Baca juga: Lelahnya Warga Perumahan Duta Harapan-Telaga Mas Bekasi, 24 Tahun Jalan Rusak Berat Luput Perbaikan
Baca juga: BIKIN MALU, Oknum Polisi Terima Setoran Rp500 Ribu Per Bulan dari Bandar Narkoba, Ini Kronologinya
Baca juga: Cerita Anies Nongkrong di Warkop, Malah Ditanya Pegawai Bea Cukai, Bapak Kerja di Mana?
"Seperti di Poso atau tempat lainnya. Sementara para teroris yang sudah selesai menjalani hukuman, kini bebas melakukan aktivitas tanpa terpantau jejaknya," ujarnya.
Kondisi ini kata Neta tentunya menjadi tugas berat Kapolri Sigit.
"Apalagi saat ini menjelang Ramadan dan idul Fitri dimana aktivitas dan kebutuhan sosial masyarakat kian meningkat," katanya.
Untuk itu, menurut Neta, Kapolri perlu mengkonsolidasikan jajarannya mulai dari jajaran intelijen hingga ke aparatur babinkamtibmas, sebagai ujung tombak, untuk mempertajam telinga maupun penciuman jajaran kepolisian.
"Agar senantiasa mampu meningkatkan deteksi dan antisipasi dini. Kapolda dan Kapolres harus mampu memenage wilayahnya agar jarum jatuh pun di wilayah tugasnya terdengar olehnya," kata Neta.
Tujuannya tambah Neta, agar Polri tidak kecolongan dan teror bom tidak terjadi lagi.
"Sebab jika teror bom sudah terjadi, korban tewas atau luka tidak hanya diderita pelaku, tapi juga masyarakat luas menjadi korban akibat teror bom tersebut. Seperti teror bom di gereja di Makassar, korban luka adalah petugas gereja dan jemaat," katanya.
Dari data yang ada, katanya, diketahui 5 petugas gereja dan 4 jemaat terkena serpihan bom.
"Tragisnya ledakan bom terjadi pada peringatan Minggu Palma yang jatuh hari ini. Bom meledak sekitar pukul 10.30 WITA atau 09.30 WIB. Minggu Palma merupakan awal dari pekan suci sebelum umat Kristiani merayakan Paskah pada pekan depan," kata dia.
Karenanya kata Neta, IPW berharap, kasus teror bom, terutama yang menyerang gereja ini, merupakan yang pertama dan terakhir di era Kapolri Jenderal Sigit.
"Untuk itu Kapolri yang diperkuat oleh para Kapolda dan Kapolres harus melakukan pagar betis agar para teroris tidak mendapat celah untuk beraksi," kata Neta.
Sebab dalam pantauan IPW, menurut Neta, selain Sulsel masih ada sembilan daerah lain yang tergolong rawan teroris.
"Yakni Sulteng, Jatim, Jateng, Jogja, Jabar, Jakarta, Banten, Lampung, dan Sumut," katanya.
Baca juga: Suami Tusuk Teman yang Berhubungan Intim dengan Istrinya, Padahal 2 Bulan Menumpang di Rumahnya
Baca juga: Korlantas Siap Luncurkan SIM Online Nasional, Perpanjang Masa Berlaku SIM Bisa dari Rumah
Baca juga: Sophia Latjuba Unggah Foto Pakai Baju Renang, Langsung Dibanjiri 2.700 Komentar, 50 and Still Hot
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kasi-kejadian-diduga-bom-bunuh-diri-di-makassar.jpg)