Jumat, 24 April 2026

Partai Politik

Max Sopacua Bilang Ibas Belum Diraba dalam Kasus Hambalang, Begini Respons Partai Demokrat

Max mengatakan, Hambalang dapat menjadi titik mulai Partai Demokrat pimpinan Moeldoko menuju masa depan yang lebih baik.

Wartakotalive.com/Alex Suban
Proyek gagal Wisma Atlet Hambalang, tampak dari udara berdiri di lereng Bukit Hambalang, Citeureup, Kabupaten Bogor, Selasa (2/2/2021). 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Max Sopacua menyebut nama Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas tak tersentuh hukum kasus korupsi proyek Hambalang.

Hal ini bermula dari pembicaraan mengapa Partai Demokrat kubu KLB Deli Serdang menggelar konferensi pers di Hambalang Sport Center, Bogor, Jawa Barat, Kamis (25/3/2021).

Max lantas menyebut nama Anas Urbaningrum dan Ibas, ketika membicarakan kasus korupsi Hambalang.

"Anas Urbaningrum itu bagian yang tidak terlepas, sekalipun beliau ditetapkan tersangka."

"Kalau kita menyampaikan, Pak Anas dapat berapa? Ibas dapat berapa? Dan yang lain itu dapat berapa? Itu panjang nantinya," ujar Max di lokasi, Kamis (25/3/2021).

Yang pasti, kata Max, sejumlah orang yang terlibat kasus itu telah menjalani proses hukum.

Baca juga: Salmi Dengar Teriakan Minta Tolong Saat Kebakaran Maut di Matraman, Jarak Rumahnya Cuma 10 Meter

Dia menyebut nama Andi Mallarangeng yang saat itu menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga, anggota DPR Fraksi Partai Demokrat Angelina Sondakh, hingga Bendahara Umum Partai Demokrat Nazarrudin.

"Yang kita pertanyakan yang lain, yang tidak disentuh hukum, itu persoalannya."

"Kalau ditanya kenapa kami konferensi pers di Hambalang, substansinya adalah kami tidak melupakan sejarah," jelas Max.

Baca juga: Banjir Diskon 99%, Bonus Dadakan Hingga Rp 25 M, dan Gratis Ongkir 5 Hari di Hut ke-9 Lazada

Saat disinggung kembali soal siapa sosok yang terlibat namun belum tersentuh hukum, Max mengatakan Ibas termasuk yang belum disentuh walaupun banyak saksi kasus korupsi Hambalang yang menyebut namanya.

"Ya masih Ibas sendiri belum diraba."

"Ibas sudah disebutkan saksi berapa banyak?"

Baca juga: Sensitivitas RT Lamp Saliva, Alat Tes Covid-19 Menggunakan Air Liur, Tembus 94 Persen

"Yulianis menyebutkan juga, yang masuk penjara kan kita tahu siapa saja," ucapnya.

Max mengatakan, Hambalang dapat menjadi titik mulai Partai Demokrat pimpinan Moeldoko menuju masa depan yang lebih baik.

"Kenapa di Hambalang? Kita tidak boleh melupakan sejarah."

Baca juga: Hari Ini Indonesia Kedatangan 16 Juta Vaksin Covid-19 Sinovac Lagi, Total Sudah 53,5 Juta Dosis

"Saya ingin menyampaikan bahwa setelah habis selesai dan ada Partai Demokrat pimpinan Moeldoko, di sini kita jadikan starting point Demokrat pimpinan Moeldoko to the future," beber Max.

Max juga menyebut pemilihan Hambalang dikarenakan pihaknya tak ingin melupakan sejarah saat Demokrat terpuruk.

Kala itu, kasus korupsi Hambalang membuat elektabilitas Demokrat terjun bebas.

Baca juga: Polisi Tak Temukan Unsur Pidana, DPR Minta PPATK Buka 92 Rekening FPI yang Diblokir

"Dari sinilah kita memulai sekarang."

"Kami tidak melupakan sejarah bahwa Hambalang juga adalah bagian integral yang membuat Demokrat turun ke bawah. Elektabilitasnya hancur."

"Biarpun ada juga yang menikmati tanpa dihukum sekarang, dan banyak yang sudah menikmati tapi sudah melewati proses hukum," imbuhnya.

Baca juga: Besok Sidang Rizieq Shihab Digelar Offline, 1.985 Personel Aparat Gabungan Bakal Jaga PN Jaktim

Max menegaskan kembali Hambalang dapat menjadi starting point partainya di bawah kepemimpinan Moeldoko, untuk meraih kejayaan pada 2024.

"Kami kembali lagi ke sini membuat Hambalang sebagai starting point prospek dari masa depan Partai Demokrat pimpinan Moeldoko sebagai ketua umum."

"Ini starting point Demokrat pimpinan Moeldoko untuk maju ke depan, insyallah di 2024 kami berjaya," harapnya.

Fitnah

Merespons hal itu, Deputi Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Kamhar Lakumani menegaskan, kubu KLB terus-menerus mengumbar fitnah.

Kamhar mengibaratkan fitnah yang dilontarkan Max Socua ibarat pepatah menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.

"Fitnah Max Sopacua ini ibarat pepatah, menepuk air di dulang terperciki muka sendiri," kata Kamhar kepada wartawan, Jumat (26/3/2021).

Baca juga: Apa Kabar Dua Laporan Terhadap Abu Janda di Bareskrim? Ini Kata Polri

Justru, kata Kamhar, Max Sopacua lah yang pernah terlibat dalam pusara kasus korupsi Wisma Atlet Hambalang.

Di mana pada 2012, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pernah memeriksa Max terkait perkara Hambalang.

"Banyak jejak digital, justru Max Sopacua yang pernah diperiksa KPK terkait kasus Hambalang," ucapnya.

Baca juga: Megawati: Yang Ngomong Jokowi Mau Jabat 3 Periode Itu yang Sebetulnya Kepengin

Kamhar mengatakan pernyataan itu menunjukkan kubu KLB Deli Serdang tak memiliki niat baik terhadap Demokrat.

"Pernyataan Max Sopacua semakin menambah daftar bahwa mereka sama sekali tak punya niat baik terhadap Partai Demokrat."

"Yang secara terus menerus membangun fitnah, termasuk terhadap Mas Ibas," cetus Kamhar.

Baca juga: RT Lamp Saliva Mampu Deteksi Varian Covid-19 dari Inggris B117 Lewat Air Liur

Kamhar mengatakan, klaim niat baik kubu KLB untuk menyelamatkan Partai Demokrat, berseberangan dengan tindakan dan tingkah laku mereka.

Menurut Kamhar, kubu KLB justru menciptakan fitnah, memutarbalikkan fakta, merangkai kebohongan, bersandiwara, dan melakukan hal lainnya untuk merusak Demokrat.

"Semakin ke sini semakin tampak nyata dan terang-benderang pertentangan antara 'niat baik' yang mereka sampaikan dengan yang mereka kerjakan," tutur Kamhar. (Vincentius Jyestha/Chaerul Umam)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved