Selasa, 9 Juni 2026

Virus Corona Jabodetabek

Tenaga Kesehatan Terbiasa Tahan Pipis dan Lapar 8 Jam saat Bertugas di RSD Wisma Atlet

Petugas kesehatan di RSD Wisma Atlet sudah terbiasa puasa makan dan minum selama 8 jam karena APD yang dikenakannya membuat tidak leluasa.

Tayang:
Penulis: Desy Selviany |
Istimewa
Komandan Lapangan Rumah Sakit Darurat (RSD) wisma atlet Letkol Laut M Arifin saat perayaan setahun RSD Wisma Atlet Kemayoran Selasa (23/3/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, KEMAYORAN -Selama setahun bekerja di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, petugas tenaga kesehatan sudah terbiasa puasa makan dan minum selama 8 jam.

Alat pelindung diri (APD) yang wajib dipakai selama bertugas membuat tenaga kesehatan tidak bisa leluasa makan, minum, buang air kecil, hingga buang air besar selama masih bertugas.

Kisah suka duka petugas tenaga kesehatan itu diceritakan oleh Komandan Lapangan Rumah Sakit Darurat (RSD) wisma atlet Letkol Laut M Arifin.

Arifin mengatakan, bagian terberat selama bertugas di RSD Wisma Atlet saat mereka harus menghadapi ledakan kasus Covid-19 atau virus corona.

Misalnya, pada 27 September 2020, tempat tidur di RSD Wisma Atlet mencapai 90 persen di  seluruh tower terisi pasien Covid-19.

Bahkan, kata Arifin, dia bekerja selama 12 jam di depan ruang Unit Gawat Darurat (UGD).

Pasalnya, mereka harus melakukan koordinasi dengan dokter-dokter menangani pasien Covid-19.

Baca juga: Promo Menginap di Jaringan Hotel Dafam untuk Tenaga Kesehatan, Hanya Rp10 Ribu Semalam

Baca juga: Dukung Imunitas Tenaga kesehatan dan Pasien Wisma Atlet, CSR FibreFirst Donasi 350 Paket FibreFirst

"Saat itu saya pakai APD dari pukul 17.00 WIB sampai besoknya pukul 05.00 WIB. Jadi pernah saya pakai pakaian hazmat (APD) 12 jam karena ledakan kasus Covid-19," ucapnya.

Selama memakai pakaian hazmat, Arifin terpaksa tidak bisa makan, minum, buang air kecil, dan buang air besar.

Ledakan kasus bukan hanya terjadi sekali,

Dua pekan setelah perayaan tahun baru, RSD Wisma Atlet kembali mengalami lonjakan kasus hingga tempat tidur dipenuhi pasien lebih dari 90 persen.

Ketika itu tenaga kesehatan kembali harus bekerja ekstra karena pasien berlimpah.

Setiap limpahan pasien juga membuat para tenaga kesehatan harus kuat-kuat menahan rindu kepada keluarga karena tidak bisa mengambil cuti.

Jatah cuti dua pekan sekali harus rela diabaikan sampai jumlah pasien yang dirawat kembali melandai.

Baca juga: MERINDING, 1.500 Pasien dan Nakes Pakai Hazmat di Wisma Atlet Mainkan Angklung Lagu Heal The World

Baca juga: Bobby Nasution Minta Maaf Kepada Para Tenaga Kesehatan, Apa Penyebabnya?

Arifin mengatakan, sejak swab antigen mulai diperkenalkan ke masyarakat, kini tenaga medis bisa pulang sejenak setelah dua minggu bertugas.

Jatah cuti sesaat itu biasanya digunakan untuk bercengkrama dengan keluarga.

"Jadi sehari-hari ya kami tidak pulang. Menginap di sini 24 jam. Pulang hanya sebentar tengok keluarga," kaanya.

Arifin berharap, perjuangannya bersama petugas medis lainnya dapat menyentuh hati masyarakat Indonesia agar lebih peduli protokol kesehatan.

Terlebih sebentar lagi memasuki bulan Ramadan dan Idul Fitri.

Arifin dan tenaga kesehatan lain mengharapkan masyarakat menerapkan protokol kesehatan saat Ramadan dan Idul Fitri mendatang.

Jangan sampai, kata Arifin, bulan penuh berkah itu malah menjadi bulan ledakan kasus Covid-19 kembali.

"Kita sedang era pandemi saat ini jadi harus bisa kerja bersama. Sama-sama bekerja untuk bisa kendalikan wabah pandemi di Indonesia," katanya.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 Tahap Satu Tenaga Kesehatan Pemkab Bekasi Capai 90 Persen

Baca juga: Tenaga Kesehatan Bekasi yang Belum Terima Vaksin Covid-19 Bakal Segera Divaksin pada Tahap 2

Meski banyak duka, Arifin tidak menampik masih ada suka cita di rumah sakit darurat tersebut.

Suka cita yang dialami seperti kedekatan dengan para pasien datang silih berganti.

Dia mengalami sendiri saat-saat seorang pasien melahirkan bayi pertama di rumah sakit darurat tersebut.

Selain itu petugas tenaga kesehatan juga ikut merasakan suka cita ketika menyaksikan pernikahan salah satu pasien yang dilangsungkan secara virtual.

Beragam perangai pasien sudah ditemui Arifin.

Mulai dari awal-awal Pandemi Covid-19, ketika petugas mendapat ancaman dari pasien karena depresi di lokasi isolasi tersebut.

Pasien harus menjalaini tes dua kali hingga dinyatakan negatif untuk bisa keluar dari RSD Wisma Atlet.

"Dulu ada pasien yang enggak diizinkan pulang sampai-sampai ancam kami," katanya.

Baca juga: Meski Sudah Divaksin Covid-19, 10 Tenaga Kesehatan di Puskesmas Jombang Terpapar Virus Corona

Baca juga: Distribusi Vaksin Terlambat, Vaksinasi Tenaga Kesehatan di Kabupaten Bekasi Selesai Akhir Februari

Arifin berterima kasih kepada tenaga kesehatan di RSD Wisma Atlet yang selalu sabar dalam hadapi pasien.

Dia juga berterima kasih kepada tenaga medis yang disebut Tim Kobra karena sudah bekerja seperti ular berbisa tersebut.

Para tenaga medis bisa bergerak cepat, tepat, dan akurat seperti ular kobra.

Mereka juga disebut gesit dan tidak mengantuk ketika bertugas.

Kekompakan tim tenaga medis RSD Wisma Atlet dan bisa saling menyemangati satu sama lain juga diapresiasinya.

Arifin berharap, saat Pandemi Covid-19 berakhir dan RSD Wisma Atlet dibubarkan pemerintah, maka para tenaga kesehatan ini bisa dipekerjakan di rumah sakit rumah sakit  di daerah masing-masing.

Para tenaga kesehatan di RSD Wisma Atlet itu merupakan  tim dokter TNI dan dokter-dokter relawan dari seluruh Indonesia.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved