Kamis, 11 Juni 2026

Berita Nasional

Pernyataan Resmi Kepala BIN Tanggapi Ancaman Reformasi seperti di Tahun 1998

Herindra mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan di tengah berbagai tantangan ekonomi

Tayang:
Editor: Feryanto Hadi
(ARSIP KOMPAS/FF)
Kawasan Glodok yang merupakan pusat perdagangan produk elektronik di Jakarta kini praktis lumpuh setelah habis dijarah dan dibakar para perusuh hari Kamis (14/5/1998). Kawasan Glodok selama ini merupakan salah satu simbol kesibukan aktivitas bisnis Jakarta bahkan juga untuk Asia Tenggara. 

Ringkasan Berita:
  • Kepala BIN Herindra merespons ancaman aksi Reformasi Jilid II dari BEM SI dengan mengajak seluruh elemen bangsa menjaga persatuan dan kesatuan di tengah tekanan ekonomi.
  • BEM SI memberi ultimatum 18 hari kepada pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS.
  • Mahasiswa mengancam menggelar aksi besar-besaran hingga penyegelan simbolik Kementerian Keuangan jika tuntutan tidak dipenuhi.
 

 

Laporan Wartawan WARTAKOTALIVE.COM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Herindra akhirnya angkat bicara terkait ultimatum Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang mengancam akan menggelar aksi besar-besaran bertajuk Reformasi Jilid II jika pemerintah dinilai gagal memperbaiki kondisi ekonomi dalam 18 hari.

Merespons ancaman tersebut, Herindra mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan di tengah berbagai tantangan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia.

"Yang penting kita semua harus menjaga persatuan dan kesatuan," kata Herindra saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026), dilansir dari Kompas.com

Menurut dia, penyampaian aspirasi merupakan bagian dari demokrasi.

Namun, seluruh pihak diharapkan tetap mengutamakan kepentingan bangsa dan menghindari langkah-langkah yang berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi stabilitas nasional.

"Jangan sampai ada hal yang tidak menguntungkan bagi kita semua," ujarnya.

Pernyataan Herindra menjadi respons resmi pertama dari pimpinan BIN setelah munculnya seruan Reformasi Jilid II yang ramai diperbincangkan di media sosial dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga: BEM SI Ultimatum Pemerintah 18 Hari, Kepala BIN Herindra Buka Suara soal Ancaman Reformasi Jilid II

BEM SI Beri Ultimatum 18 Hari

Ancaman Reformasi Jilid II mencuat setelah mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI menggelar aksi bertajuk Rupiah Sekarat, Rakyat Melarat di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Jumat (5/6/2026).

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Ketua BEM Universitas Sebelas Maret (UNS), Kailani Rizqi Pratama, menyatakan pihaknya memberikan tenggat waktu 18 hari kepada pemerintah untuk menunjukkan langkah konkret dalam memperbaiki kondisi ekonomi nasional.

"Kalau kita melihat hari ini rupiah melemah sampai Rp18.000, kami memberikan tenggat waktu selama 18 hari untuk memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia," kata Kailani.

Mahasiswa bahkan mengancam akan melakukan aksi lanjutan, termasuk penyegelan simbolik terhadap Kementerian Keuangan apabila tuntutan tersebut tidak mendapat respons yang memadai.

"Jika dalam waktu 18 hari tidak ada upaya perbaikan, jangan salahkan kami selaku mahasiswa untuk melakukan penyegelan di Kementerian Keuangan," ujarnya.

Pelemahan Rupiah Jadi Sorotan

Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan menjadi perhatian publik. Selain dipengaruhi penguatan dolar AS, tekanan juga datang dari ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik di sejumlah kawasan, hingga pergerakan arus modal internasional.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terkait kenaikan biaya impor, tekanan harga barang, hingga daya beli masyarakat.

Meski demikian, pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga.

Sejumlah indikator seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, serta stabilitas sektor keuangan disebut masih berada dalam kondisi terkendali.

Dasco: Rupiah Akan Menguat

Di tengah munculnya ultimatum dari mahasiswa, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan optimistis nilai tukar rupiah akan segera menguat.

Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan sejumlah strategi yang diyakini mampu memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam waktu dekat.

Langkah-langkah tersebut, menurut Dasco, akan mulai dijalankan dalam sepekan ke depan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan pasar.

Pernyataan itu disampaikan Dasco saat menanggapi perkembangan nilai tukar rupiah yang belakangan menjadi perhatian pelaku pasar, dunia usaha, maupun masyarakat.

Ia mengaku memperoleh informasi bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan dan langkah strategis untuk mendorong penguatan mata uang nasional.

“Pemerintah punya strategi dan langkah-langkah yang menurut saya cukup kuat untuk memperkuat rupiah dalam waktu dekat. Saya mendapatkan informasi bahwa strategi itu akan mulai berjalan dalam minggu ini,” kata Dasco.

Seiring dengan keyakinannya terhadap langkah pemerintah tersebut, Dasco bahkan memberikan imbauan kepada masyarakat yang saat ini menyimpan dolar AS dengan harapan memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai tukar.

Menurut dia, potensi penguatan rupiah dalam beberapa waktu mendatang membuat masyarakat perlu mempertimbangkan kembali keputusan untuk menahan aset dalam bentuk dolar.

“Ya mungkin bagi teman-teman sekalian yang saat ini menyimpan dolar karena ingin berharap ada kelebihan, sebaiknya dolarnya dilepas,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai mampu memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.

Meski tidak merinci strategi yang dimaksud, Dasco meyakini langkah-langkah yang sedang disiapkan akan berdampak terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

Selain faktor kebijakan ekonomi, Dasco menilai kepercayaan publik terhadap pemerintah juga memiliki peran penting dalam menentukan arah pasar.

Menurutnya, stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh instrumen fiskal dan moneter, tetapi juga dipengaruhi oleh tingkat keyakinan masyarakat dan pelaku usaha terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola perekonomian.

Ia mengatakan, ketika tingkat kepercayaan terhadap pemerintah meningkat, maka sentimen pasar cenderung membaik. Kondisi tersebut dapat mendorong masuknya modal, meningkatkan optimisme investor, dan pada akhirnya memberikan dukungan terhadap penguatan nilai tukar rupiah.

“Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah juga menjadi faktor penting. Kalau kepercayaan itu meningkat, maka sentimen pasar juga akan ikut positif,” kata Dasco.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved