Kolom Trias Kuncahyono

Jokowi, Petruk dan Pinokio

Ketika Presiden Jokowi ke Padepokan Bagong Kussudiarja memantau vaksinasi Covid-19 terhadap 500 seniman disambut para penari berdandan Petruk.

Screenshoot/YouTube
Foto ilustrasi: Semar, Petruk, Gareng dan Bagong 

WARTAKOTALIVE.COM  -- Mengapa ketika Presiden Jokowi ke Padepokan Bagong Kussudiarja memantau vaksinasi Covid-19 terhadap 500 seniman, disambut para penari berdandan Petruk?

Itu pertanyaan semantara orang beberapa waktu lalu.

Butet Kartaredjasa yang tuan rumah mengatakan, sengaja memilih Petruk sebagai tokoh.

Presiden Jokowi memang kerap diidentikkan dengan sosok Petruk, salah satu dari empat punakawan.

Baca juga: Paus Fransiskus dan Ayatollah Al-Sistani

Sebagaimana Petruk, Jokowi dianggap representasi rakyat. Sejak memasuki gelanggang politik, Jokowi mencitrakan dirinya sebagai wakil wong cilik.

Istilah wong cilik—Koentjaraningrat menggunakan istilah tiyang alit—adalah sebuah istilah yang digunakan untuk membedakan status sosial dalam masyarakat Jawa.

Dalam penggunaannya wong cilik selalu dikontraskan dengan istilah priyayi.Jadi ada wong cilik dan priyayi (wong gedhe).

Dalam banyak kasus, wong cilik menderita karena wong gedhe.

Baca juga: Wartawan Senior dan Reuni Vaksin

Sementara itu, Clifford Geertz membedakan orang Jawa menjadi dua golongan: santri untuk yang menjalankan ajaran agama (Islam) dengan sungguh-sungguh, dan abangan untuk orang kebanyakan.

Sekalipun, Niel Mulder (2001) berpendapat bahwa  orang Jawa adalah makhluk religius.

Masyarakat yang dikelompokkan ke dalam golongan wong cilik adalah sebagian besar massa petani, petani gurem, para pekerja kasar, para pedagang kecil, buruh kecil, tukang becak, pengasong, dan sebagainya.

Mereka ini merupakan masyarakat kebanyakan dan menjadi lapisan masyarakat bawah.

Sekalipun Magnis-Suseno (1993) membedakan arti wong cilik dan orang miskin.

Baca juga: Mendadak Ingat Bung Hatta

Antara orang kecil dan orang miskin tidak sama.

Orang miskin termasuk orang kecil, sedangkan orang kecil hidupnya sederhana, tapi belum tentu miskin. Begitu kata Magnis-Suseno.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved