Isra Miraj
Isra Miraj Perjalanan Nabi Muhammad SAW Ketika Melewati Neraka Seperti Ini Gambarannya
Perjalanan Nabi Muhammad SAW yang diajak malaikat Jibril dari Masjidil Aqsa ke langit ke tujuh melewati neraka, ini yang dilihat
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Peristiwa Isra Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Al Aqsa ke surga.
Peringatan Isra Miraj 1442 Hijriah jatuh pada Kamis 11 Maret 2021. Berikut ini kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang melihat langsung kondisi neraka.
Pada malam Isra Miraj, selain mendapat perintah shalat secara langsung, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam juga diperlihatkan pada sebagian hikmah dan tanda kebesaran Allah, sebagaimana dalam Al-Qur’an:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami,” (QS. Al-Isra’ [17]: 1).
Baca juga: Benarkah Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW Dianggap Bidah? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad
Banyak hadits yang mengisahkan tentang sebagian tanda kebesaran itu.
Mulai dari diperlihatkan pada tujuh lapisan langit, baitul ma’mur, hingga disampaikan pada sidratul muntaha.
Mulai dari dipertemukan dengan sebagian nabi terdahulu, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Musa ‘alaihissalam, Nabi Isa ‘alaihissalam, dan Nabi Yusuf alaihissalam, hingga diperlihatkan pada gambaran umat yang bahagia dan sengsara di akhirat.
Namun mengingat terbatasnya kesempatan, yang akan disajikan kali ini adalah beberapa hadits tentang hikmah dan gambaran umat yang bahagia dan sengsara di akhirat.
Baca juga: SIMAK! Seperti Ini Sosok 4 Golongan Wanita Ahli Neraka yang Dilihat Nabi Muhammad saat Isra Miraj
Sementara hadits-hadits tentang keagungan Allah yang lain, insyaallah, akan disajikan pada kesempatan berikutnya.
Gambaran tentang umat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam yang hanya pandai orasi dan menyeru orang lain, namun lalai akan keselamatan dirinya, disebutkan dalam riwayat Anas ibn Malik.
Dalam riwayat tersebut, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bercerita:
رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي رِجَالًا تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، فَقُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ، يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ، وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ، وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ
“Pada malam di-isra’-kan, aku melihat sejumlah laki-laki yang digunting bibirnya dengan gunting api. Aku bertanya (pada Jibril), ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?’
Ia menjawab, ‘Mereka adalah para khatib dari kalangan umatmu. Mereka memerintah kebaikan pada orang lain, namun mereka sendiri lupa akan dirinya sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/perjalanan-nabi-muhammad-saw.jpg)