Kolom Trias Kuncahyono

Jangan Sampai Lupa

Kita jangan sampai bernasib seperti Azerbaijan dan Armenia dua negara bekas Uni Soviet, yang berkonflik.

Istimewa
Ilustrasi 

I

WARTAKOTALIVE.COM - Ia pernah berpesan kepada kami. Tidak  hanya “pernah”, tetapi berkali-kali berpesan, dalam berbagai kesempatan.

Kami tidak pernah bosan mendengarkan pesan itu. Kami secara diam-diam, masing-masing, tanpa ada rembukkan, berkeyakinan—mengapa ia selalu mengatakan hal yang sama setiap waktu, selalu memberikan pesan yang sama setiap ada kesempatan, meski dicampur dengan pesan-pesan lainnya—bahwa pesan itu sangat penting!

Itu yang kami yakini. Pesannya penting. Tidak hanya bagi kami—yang berasal dari berbagai daerah, berbagai suku-etnis, dan berbagai agama ini—tetapi bagi keberlangsungan bangsa ini. Itu kami yakini.

Suatu ketika ia mengatakan, “Kita jangan sampai bernasib seperti Azerbaijan dan Armenia dua negara bekas Uni Soviet, yang berkonflik.

Kita juga jangan sampai bernasib seperti negara-negara di Balkan, yang berperang, saling membunuh, dan pecah.

Baca juga: Suu Kyi Serukan Penyelesaian Konflik Sektarian

Jangan sampai kita seperti Irlandia Utara yang bertahun-tahun dibelit konflik antara kelompok Protestan dan Katolik, seperti perang 30 tahun saja di zaman dulu, 1618-1648.

Juga, jangan sampai seperti Nigeria, seperti Sudan yang akhirnya pecah menjadi dua, dan sejumlah negara lainnya yang dibelit oleh kebencian sektarian.”

Kalian tahu, begitu katanya pada suatu kesempatan di pagi hari, seperti yang dikatakan oleh Amartya Sen bahwa kebencian sektarian yang giat dihembus-hembuskan bisa menyebar cepat laksana nyala api; nyala api yang setiap kali membakar hutan-hutan di negeri kita ini. Habis semuanya dimakan api.

Ia masih melanjutkan pesannya: Itulah sebabnya, mengapa selalu saya katakan bahwa kalian tidak boleh lupa.

Baca juga: Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas: Selamat Natal 2020, Semoga Kemajemukan Indonesia Tetap Terjaga

Kalian jangan sampai lupa bahwa masyarakat Indonesia secara demografis maupun sosiologis merupakan wujud dari bangsa yang majemuk.

Ciri yang menandai sifat kemajemukan ini adalah adanya keragaman budaya yang terlihat dari perbedaan bahasa, sukubangsa (etnis) dan keyakinan agama serta kebiasaan-kebiasaan kultural lainnya.

Kenyataan secara kondrati Indonesia, tidak mungkin diingkari.

Indonesia itu secara kodrati bhinneka, beragam dalam segala hal, baik suku, agama, ras maupun etnik.

Adakah yang bisa menyangkal? Adakah yang bisa memungkirinya? Tanpa kemajemukan, tanpa kebhinnekaan itu, tidak ada Indonesia.

Bung Karno (Foto: Istimewa)
Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved