eSports
Pemain Todak tidak Terbiasa Kena Angin Pagi
Todak Malaysia dikalahkan tim nonunggulan, Omega, pada hari pertama Mobile Legends World Championship 2020 (M2), di Singapura, Senin (18/1/2021).
Penulis: Merdisikandar | Editor: Merdisikandar
Psychoo adalah salah satu tanker terbaik di Indonesia.
Dia sempat berada di titik tertinggi ketika memberikan tiga trofi untuk Onic Esports, yaitu di MPL ID Season 3, MSC 2019, dan Piala Presiden 2019.
Psychoo juga menjadi bagian dari tim nasional Indonesia di SEA Games 2019 dan meraih medali perak.
Namun, karier Psychoo di tingkat klub tidak terlalu lancar.
Pada MPL ID Season 5 dan 6, namanya tenggelam.
Bahkan, pada Season 6, dia tidak dimainkan sama sekali dan hanya menjadi streamer Onic.
Sampai akhirnya dia pindah ke RRQ Hoshi setelah ONE Esports MPLI.
Psychoo terbilang beruntung karena debutnya di RRQ Hoshi adalah pada turnamen besar, M2.
Psychoo mengaku tidak mengalami masalah dengan karantina di Singapura, sebelum bertarung di M2.
“Tidak ada masalah sih saat karantina. Paling kami bosan saja. Kegiatan, ya paling main rank, scrim (latih tanding), dan kalau malam, saya paling nonton film,” ujarnya.
”Kalau kangen rumah, ya kangenlah. Butuh nasi padang, sate padang, taichan, dan lain-lain. He-he-he,” tambah dia.
Teguh mengaku sangat mudah beradaptasi di RRQ.
Bukan karena kondisi tim, tetapi lebih kepada kesadaran dia akan lingkungan di sekitarnya.
Hal itu pun terbawa ke gameplay, yang juga jadi mudah menyatu.
“Saya orangnya cepat dalam beradaptasi dengan lingkungan dan lain sebagainya. Saya ikutin lingkungannya saja. Intinya, kita tahu batasan-batasannya. Saya dekat dan baik dengan semua pemain di sini, tetapi paling dekat dengan R7 dan Wizzking,“ tuturnya.
“Masalah adaptasi gameplay, kami main bareng saja sih, mulai dari rank dan scrim, tetapi cepat dapat feel-nya di scrim,“ tambah pria asal Pontianak, Kalimantan Barat, itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/todak-malaysia.jpg)