Demo Pedagang Daging Sapi

Pedagang Daging Sapi di Kota Tangerang Mogok Tiga Hari Akibat Harga yang Tinggi

Akibat harga daging sapi yang sangat tinggi, pedagang di Pasar Anyar dan Pasar Lama, Kota Tangerang, akan menutup kiosnya beberapa hari ke depan.

Editor: Valentino Verry
Warta Kota/Zaki Ari Setiawan
Para pedagang daging sapi di Jabodetabek menggelar aksi mogok selama tiga hari mulai Rabu (20/1/2021) hingga Jumat (22/1/2021), sebagai bentuk protes kenaikan harga komoditas tersebut. 

Manto mengungkapkan, penutupan sementara itu harus ia lakukan agar harga daging sapi dapat menurun.

"Kalau terus naik, nanti masyarakat enggak mampu beli. Makanya harapan saya, harga daging bisa murah setelah tutup," lanjut Manto.

Secara terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangerang Eni Nuraeni mengaku belum mengetahui alasan kenaikan harga daging sapi.

"Untuk kepastiannya, saya sampaikan kembali ya," kata Eni.

Para pedagang daging sapi di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi (Jadetabek) sepakat untuk tidak berjualan selama tiga hari, mulai Selasa (19/1/2021) ini hingga Kamis (21/1/2021).

Aksi mogok itu dilakukan sebagai bentuk protes pedagang sapi kepada pemerintah karena tak bisa mengendalikan harga daging.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) DKI Jakarta, TB Mufti Bangkit Sanjaya, Selasa (19/1/2021).

"Menghasilkan kesepakatan bahwa kami mogok berjualan daging, baik di pasar maupun di rumah pemotongan hewan (RPH). Tujuannya, menuntut pemerintah segera mengantisipasi, memberi solusi konkret untuk para pedagang dan pihak RPH," katanya.

Menurut Mufti, lonjakan harga daging sudah dirasakan sejak empat bulan terakhir. Kenaikan harga itu diprediksi akan terus terjadi hingga April 2021.

"Diprediksi akan naik terus sampai dengan bulan Maret atau April dengan harga tertinggi Rp 105.000 per kilogram per karkas. Sekarang itu harga per karkas masih Rp 94.000," katanya.

Dengan tingginya harga daging, para pedagang kesulitan menjual kepada warga yang perekonomian masih tergolong sulit karena pandemi.

"Kami libur pun pasti enggak ada yang bisa berjualan sapi. Ini kami sudah rugi pedagang-pedagang dari empat bulan lalu," kata Mufti.

Menurut Mufti, akar masalah meningginya harga daging sapi disebabkan oleh kebijakan pemerintah Australia selaku pihak yang mengekspor ke Indonesia.

RPH Cakung atau PD Dharma Jaya
RPH Cakung atau PD Dharma Jaya (Dharmajaya.com)

Pemerintah Australia dinilai menjual sapi dalam jumlah sedikit dan harga yang mahal. Dengan terbatasnya jumlah sapi impor, harga dagingnya pun menjadi mahal.

"Australia yang market terbesarnya sejak 30 tahun mereka semena-mena menjual dengan harga sapi tertinggi. Sapi yang dikasih Australia ke Indonesia sedikit sekali, tak cukup dengan permintaan pemerintah," tutur Mufti.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved