Kolom Trias Kuncahyono
Begawan Ciptaning
Kata Ciptaning adalah gabungan dua kata: “cipta” yang berarti pikiran/hati dan “ning” yang artinya hening atau wening atau bening.
Misalnya, ketika pemerintah didukung masyarakat banyak, didukung rakyat bersepakat untuk melakukan vaksinasi pada masyarakat, masih saja ada yang menentangnya, dengan alasan yang dibuat-buat, yang waton sulaya.
Ada pula yang menentang dengan menyatakan bahwa menentang adalah hak asasi.
Apakah mereka lupa bahwa mereka hidup di tengah masyarakat, tidak hidup sendiri di tengah samodra luas, tidak hidup sendiri di tengah hutan rimba.
Karena itu, apa pun yang dilakukan, tidak bisa hanya mementingkan diri sendiri, semaunya saja, tetapi juga harus memikirkan orang lain: apa dampak tindakannya bagi orang lain?
Bukankan vaksinasi adalah upaya negara dalam melindungi masyarakat dari ancaman pandemi Covid-19.
Vaksinasi dilakukan agar cepat terbentuk kekebalan pada tubuh masyarakat, herd immunity, kekebalan komunitas.
Dengan tubuh kebal dan memiliki antibodi maka bisa mencegah Covid-19, memutus matarantai penyebaran Covid-19.
Kekebalan komunitas adalah sangat penting. Sebab, vaksinasi hanya akan efektif jika ada kekebalan komunitas. Bila komunitasnya kuat, sehat, maka negara pun akan sehat dan kuat kembali.
Kehidupan akan kembali bergulir dalam kondisi normal, meski mungkin tidak seperti sedia kala akan tetapi lebih bebas dibanding kalau tetap di bawah “kekuasaan” Covid-19.
Akan tetapi, mengapa masih saja ada orang—sementara orang—yang memilih jalan trivialisme?
Itu terjadi karena mereka tidak memiliki perspektif untuk melihat dan terlibat dalam gerak untuk mencapai tujuan bersama yang besar; tujuan bersama yang harus dilakukan secara bersama-sama.
Yang mereka pikirkan, yang mereka utamakan, yang mereka perjuangkan hanyalah kebutuhan diri.
Padahal, tujuan besar bersama dengan vaksinasi adalah keselamatan bangsa dan negara; keselamatan seluruh rakyat.
Orang boleh membual sampai berbusa-busa tentang kehebatan kalkulasi nalar mengapa menentang vaksinasi.
Namun, sejarah telah membuktikan bahwa vaksin-lah yang telah menyelamatkan umat manusia.
Vaksinasi telah merevolusi kesehatan global. Bisa dibilang vaksin sebagai inovasi yang paling menyelamatkan jiwa dalam sejarah pengobatan.
Misalnya, Edward Jenner (1749-1823) seorang dokter dari Inggris pada tahun 1796 menciptakan vaksin cacar.
Selama berabad-abad cacar merupakan salah satu wabah yang paling ditakuti di dunia, menewaskan sebanyak 30 persen dari korbannya, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak.
Ditemukannya vaksin cacar telah memangkas angka kematian anak, dan mencegah cacat seumur hidup (https://www.historyofvaccines.org).
Louis Pasteur (1822-1895) ahli kimia dan mikrobiologi Perancis, pada tahun 1885 menemukan vaksin rabies.
Antitoksin dan vaksin melawan difteri, tetanus, antraks, kolera, wabah penyakit, tifoid, tuberkulosis, dan lainnya dikembangkan selama tahun 1930-an.
Pertengahan abad ke-20 merupakan masa aktif untuk penelitian dan pengembangan vaksin.
Penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi baru terus dilakukan.
Dan, dihasilkanlah, misalnya, vaksin untuk polio, tetanus, campak, gondokan, hepatitis A, hepatitis B dan sebagainya.
IV
Semestinya, sejarah menjadi guru kehidupan. Sejarah juga merupakan saksi zaman.
Tetapi, orang cenderung melupakan semua itu. Ada sementara orang yang cenderung menganggap dirinya lebih tahu, atau bahkan paling tahu.
Mereka itu tentu bukan seorang “ciptaning” sejati; seorang yang berhati, berpikiran bersih, memupuk budi luhur dan mengembangkan sifat ksatria; yang setia pada perkara kecil, karena dengan demikian akan sanggup setia pada perkara besar. ***
BACA KOLOM TRIAS KUNCAHYONO SELENGKAPNYA, KLIK: BEGAWAN CIPTANING
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/begawan-ciptaning.jpg)