Kolom Trias Kuncahyono

Begawan Ciptaning

Kata Ciptaning adalah gabungan dua kata: “cipta” yang berarti pikiran/hati dan “ning” yang artinya hening atau wening atau bening.

Istimewa
Ilustrasi: Begawan Ciptaning 

Dalam dunia pewayangan lakon Begawan Ciptaning mengisahkan Raden Arjuna  yang tengah bertapa, tapa-brata atas nasihat Kresna di dalam Gua Mintaraga.

Saat bertapa, Begawan Ciptaning menghadapi tiga cobaan berat.

Cobaan pertama digoda tujuh bidadari yang diutus oleh Sang Hyang Bathara Indra.

Mengapa Bathara Indra mengutus tujuh bidadari? Karena Arjuna dikenal sebagai ksatria yang mudah jatuh hati pada perempuan cantik.  

Namun, kali ini Arjuna memiliki keteguhan hati dan jiwa.

Godaan para bidadari cantik itu tidak meruntuhkan Arjuna yang tengah bertapa. Ia tidak tergoda.

Godaan kedua adalah Sang Hyang Bathara Indra yang menyamar sebagai resi tua bertubuh renta.

Di depan Begawan Ciptaning, resi itu bicara, “Apa artinya tapa-brata, jika hanya untuk memburu keindahan dunia? Sekadar untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga!” Sang resi berusaha memancing amarah.

Mendengar ucapan itu, Begawan Ciptaning menjawab: “Jangan asal bicara, Bapa Resi yang saya hormati! Tapa-brata-ku tidak untuk memburu keindahan dunia, tidak untuk memenuhi nafsu duniawi, tidak untuk memuaskan kekuasaan dunia,  namun hanya untuk mengukuhkan dharmaku sebagai seorang ksatria. Bukan pribadi dan keluarga yang aku utamakan dalam tapa-brata-ku, akan tetapi, jalan kebenaran di tengah kehidupan bersama.”

Kebenaran tidak pernah mati, meski sering dikorbankan. Sebab, akal budi manusia tidak pernah tunduk pada pemaksaan, tidak tunduk pada keputusan mayoritas.

Akal budi terbuka pada yang ada dan melampauinya; karena akal budi bersifat rohani.

Resi tua itu masih berusaha memancing kemarahan Begawan Ciptaning, dengan bertanya: mengapa seorang yang bertapa, mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, Hyang Maha Damai, membawa senjata?

Begawan Ciptaning menjawab: senjata adalah dharma seorang ksatria.

Selama tapa-brata, Begawan Ciptaning yang adalah Arjuna masih tetap menjalankan dharmanya sebagai seoran ksatria.

Ia membantu penduduk desa yang berburu di hutan, misalnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved