DKI Kembangkan Pengolahan Sampah Organik Memakai Maggot
Andono mengatakan, Black Soldier Flies (BSF)/maggot memiliki kemampuan untuk menguraikan sampah organik dalam waktu relatif cepat selama satu hari.
Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Mohamad Yusuf
WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR - Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta sedang mengembangkan pengolahan sampah organik dapur dengan teknologi biokonversi Black Soldier Flies (BSF)/maggot.
Melalui teknik ini, sampah organik dari rumah tangga bisa dikonversikan menjadi protein dalam bentuk pupa dari BFS.
“Pupa ini bisa digunakan selanjutnya untuk pakan ternak, unggas maupun ikan,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih berdasarkan keterangan yang diterima pada Selasa (27/10/2020).
Andono mengatakan, BFS memiliki kemampuan untuk menguraikan sampah organik dalam waktu relatif cepat selama satu hari.
Teknik ini sangat membantu pemerintah dalam menangani sampah organik, karena setiap hari 53 komposisi sampah Jakarta adalah organik.
Baca juga: Viral Video Habib Rizieq Sekeluarga akan Pulang ke Indonesia, kembali Berjuang Bersama Umat Islam
Baca juga: Beredar Video Habib Rizieq, Sebut Kondisi Negara Terpuruk, Minta Ulama hingga Akivis Lakukan ini
Baca juga: Kalahkan Gaethje, ini Hal Terpuji yang Dilakukan Khabib Nurmagomedov di Pertandingan Terakhirnya
“Bisa dibilang maggot adalah solusi paling potensial karena hasilnya tidak ada yang dibuang. Maggot adalah larva serangga BFS yang dapat mengubah material organik menjadi biomassanya,” jelas Andono.
Kata dia, lalat ini berbeda dari jenis lalat biasanya karena larva yang dihasilkan bukan larva yang menjadi medium penyakit.
Untuk siklus dari BFS menjadi maggot hingga berubah berbentuk pupa membutuhkan waktu selama 40-44 hari.
“Dari sejak berbentuk telur lalat, maggot membutuhkan sampah organik untuk tumbuh selama 25 hari sampai siap dipanen. Maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik 1-3 kali dari bobot tubuhnya selama 24 jam,” ujar Andono.
“Bahkan bisa sampai lima kali bobot tubuhnya, sedangkan satu kilogram maggot dapat menghabiskan dua sampai lima kilogram sampah organik per hari,” tambah dia.
Menurutnya, maggot yang sudah menjadi prepupa atau bangkai lalat BSF dapat digunakan sebagai pakan ternak, karena kaya kandungan protein.
Kemudian, bagian kepompongnya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk, sehingga tidak menimbulkan sampah baru.
“Ada juga nilai ekonomisnya jika kita membudidaya maggot, karena 100 gram maggot kering bisa dijual dengan harga Rp 15.000 sampai Rp 30.000,” katanya.
Hingga kini, Dinas LH DKI Jakarta terus mendukung budidaya maggot yang dilakukan masyarakat. Salah satunya di pesantren yang terletak di Jakarta Timur.
Dengan membudidaya maggot, reduksi sampah organik di pesantren tersebut dapat mencapai 400 kilogram dalam sehari. Para santri juga bisa memakai maggot sebagai pakan ternak mereka seperti ikan dan ayam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kepala-dinas-lh-dki-jakarta-andono-warih-saat-menyerahkan-bibit-maggot.jpg)